Bertaubat dan Taat pada Syariah

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Dan kami tidak mengutus seorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (TQS. an-Nisaa' [4]: 64)

Keimanan meniscayakan ketundukan secara total terhadap syariah. Semua syariah yang dibawa Rasulullah SAW, baik yang terdapat dalam al-Quran maupun dalam Sunnah-nya, wajib ditaati. Tidak ada alasan bagi manusia untuk membangkangnya. Terlebih orang yang telah mendeklarasikan keimanan. Jika pembangkangan itu telah telanjur dilakukan, maka bertaubat merupakan satu-satunya pilihan agar mendapatkan keselamatan. Inilah di antara perkara penting yang dikandung dalam ayat di atas.

Rasul Wajib Ditaati

Allah SWT berfirman: Wa-maa arsalnaa min Rasuul illaa liyuthaa'a bi-idznil-Lah (dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah). Ayat ini merupakan kelanjutan ayat sebelumnya yang menjelaskan perilaku orang munafik. Mereka adalah orang-orang yang mengaku beriman, namun justru menjadikan thaghut sebagai hakim. Sebaliknya, ketika diajak tunduk kepada hukum yang diturunkan Allah SWT, mereka justru berpaling. Bahkan ketika mereka ditimpa musibah karena pembangkangannya itu, mereka pun masih berusaha berkelit. Bahwa tindakannya itu mereka lakuka untuk penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna. Allah pun menegaskan telah mengetahui isi hati mereka. Terhadap mereka, umat Islam diperintahkan berpaling, menasihati, dan menyampaikan perkataan yang berbekas (lihat QS. an-Nisa' [4]: 60-65).

Kemudian dalam ayat ini ditegaskan tentang posisi rasul. Semua rasul, termasuk Rasulullah SAW, diutus Allah SWT untuk ditaati manusia. Kata rasuul yang berbentuk nakirah dalam struktur kalimat nafiyy (kalimat negatif) seperti pada ayat ini, memberikan makna umum. Sehingga kata rasuul di sini mencakup seluruh rasul. Pengertian itu kian tegas dengan kata min, yang menurut al-Syaukani, merupakan zaaidah yang berguna sebagai li ta'kid (untuk menegaskan).

Sedangkan bentuk nafiyy yang disertai dengan istitsnaa' (perkecualian) seperti ayat ini, menghasilkan hasyr (pembatasan) yang paling kuat. Artinya, semua rasul diutus Allah SWT itu semata hanya untuk ditaati. Ditegaskan pula, bahwa ketaatan tersebut bi-idznil-Lah, atas seizin Dzat yang wajib ditaati, Allah SWT. Sebagaimana disitir al-Baghwi, az-Zujjaj mengatakan, liyuthaa'a bi-idznil-Lah sebab Allah SWT telah mengizinkan dan memerintahkannya.

Sebagai utusan-Nya, para rasul itu memang diutus untuk membawa risalah yang berasal dari-Nya. Bahkan ditegaskan dalam QS an-Najm [53]: 4, perkataan yang diucapkan Rasulullah itu adalah wahyu yang diwahyukan. Rasul juga tidak mengikuti kecuali wahyu yang diwahyukan (lihat QS al-An'aam [6]: 51, Yunus [10]: 15, dan Ahqaf [46]: 9).

Oleh karena itu, menaati rasul, pada hakikatnya sama halnya dengan menaati Allah SWT. Hal ini juga ditegaskan Allah dalam firman-Nya: Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka (TQS an-Nisaa' [4]: 80). Rasulullah juga bersabda: Siapa yang taat kepadaku, maka sungguh dia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yaang bermaksiat kepadaku, maka sungguh dia telah bermaksiat kepada Allah (HR Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah).

Kesempatan Bertaubat

Selanjutnya Allah SWT berfirman: Walaw annahum idz zhalamuu anfusahum jaa-uuka (sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya diri mereka, mereka datang padamu). Dhamiir hum (kata ganti orang ketiga jamak 'mereka') dalam ayat ini kembali pada ayat sebelumnya. Sebagaimana diterangkan Fakhruddin ar-Razi, mereka adalah kaum munafik. Sehingga, yang dimaksud dengan zhalamuu anfusahum adalah dengan berhukum kepada at-Thaaguut. demikian al-Zamakhsyari dan al-Baghawi dalam tafsirnya.

Ditegaskan dalam ayat ini, jika mereka telah telanjur melakukan perbuatan maksiat itu, mereka datang kepada Rasulullah. Kedatangannya dalam rangka untuk bertaubat. Allah berfirman: fa[i]staghfirul-Lah (lalu memohon ampun kepada Allah). Menurut Ibnu Manzhur dalam Lisaan al-'Arab, kata al-ghafr berarti al-taghthiyah wa al-satr (menutupi). Ghafaral-Lah dzunuubahu berarti satarahaa (menutupinya).

Sehingga, al-istighfar berarti thalab al-maghfirah (permintaan ampun). Ditegaskan ar-Raghib al-Asfahani, permintaan ampun itu tidak cukup dengan lisan, namun juga dengan perbuatan. Oleh karena itu, sebagaimana dijelaskan Sihabuddin al-Alusi, pengertian mereka beristighfar itu adalah mereka meminta ampun atas dosa-dosa mereka, berhenti dari perbuatan (maksiatnya itu), dan menyesali apa yang telah dikerjakan.

Di samping itu juga: wa[i]staghfara lahum ar-Rasuul (dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka). Artinya, Rasulullah juga turut memohon kepada Allah agar menerima taubat mereka dan mengampuni dosa-dosa mereka. Demikian al-Alusi dalam tafsirnya, Ruuh al-Ma'aanii. Dijelaskan Abdurrahman as-Sa'di, ketentuan ini khusus ketika Rasulullah SAW masih hidup sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat ini. Sebab, permintaan ampun dari Rasulullah itu tidak bisa terjadi kecuali dalam semasa hidup beliau. Adapun setelah beliau wafat, maka ketentuan itu tidak dituntut lagi.

Seandainya itu yang mereka lakukan, maka: Lawajadul-Lah Tawwaab[an] Rahiim[an] (tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang). Kata tawwaab merupakan bentuk mubaalaghah dari kata at-tawbah. Kata at-tawbah, sebagaimana dijelaskan Ibnu Manzhur dalam Lisaan al-'Arab, berarti ar-ruju' min adz-dzanb (kembali dari dosa). Sehingga rajul tawwaab berarti taa-ib ilal-Lah (yang bertaubat kepada Allah). Sedangkan wal-Lah Tawwaab berarti yatuubu 'alaa 'abdihi (menerima taubat hamba-Nya). Dengan demikian, ayat ini memberikan peluang kepada orang-orang yang telah telanjur melakukan kemaksiatan besar, yakni membangkang dari hukumnya dan berhukum kepada thaaguut, untuk mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Tentu itu terjadi jika mereka benar-benar bertaubat. Ditegaskan pula bahwa Allah itu Rahiim, Maha Penyayang. Yang Menyayangi hamba-Nya yang mau bertaubat kepada-Nya.

Tak dapat dipungkiri, nifak merupakan dosa besar. Bahkan pelakunya, yakni munafik, diancam dengan siksa neraka paling bawah. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka (TQS an-Nisaa' [4]: 145). Akan tetapi, jika mereka benar-benar bertaubat, niscaya Allah akan mengampuninya. Allah berfirman: Kecuali orang-orang yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah, dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman, dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar (TQS an-Nisaa' [4]: 146).

Demikianlah nasib kaum munafik. Sebelum terlambat, maka segeralah bertaubat kepada Allah SWT. Yakni berhenti dari berhukum kepada hukum thaaguut dan bersegera berhukum kepada hukum Allah. Inilah satu-satunya jalan bagi orang yang ingin mendapatkan keselamatan.

Wal-Lah a'lam bi ash-shawaab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*