Obama Mengokohkan Penjajahan atas Indonesia

Tepat 55 tahun Hari Pahlawan, Presiden Amerika Serikat Barack Obama datang ke Indonesia. Pidatonya pun begitu memukau banyak kalangan, sehingga ia dielu-elukan bak pahlawan. Namun menurut Ichsanuddin Noorsy, pengamat kebijakan publik, Obama adalah penyihir yang hanya berpengaruh kepada orang yang mengidap salah satu dari tiga penyakit berbahaya. Penyakit apa itu? Dan bagaimana menangkalnya? Simak dalam wawancara berikut ini.

Apa makna perjanjian Kemitraan Komprehensif?

Kalau pengertian komprehensif diterjemahkan sebagai menyeluruh, maka pertanyaannya: dengan negara mana lagi pemerintah melakukan perjanjian yang juga menyeluruh? Yang saya tahu, baru kali ini pemerintah melakukan perjanjian yang sifatnya menyeluruh. Kalau perjanjiannya menyeluruh, lantas apa yang tersisa? Karena seluruhnya telah diperjanjikan.

Walaupun disebut sebagai kesetaraan atau seimbang, tapi kalau dilihat dari pengalaman hubungan Indonesia dan Amerika, statusnya kita subordinat. Kita hamba sahaya, mereka tuan. Dengan begitu perjanjian menyeluruh itu tidak ada yang tersisa, termasuk memperjanjikan kedaulatan kita.

Apa catatan kritis Anda dalam konteks perekonomian perjanjian tersebut?

Indonesia salah dalam memahami perubahan iklim global (global climate change, GCC) dan perang nilai tukar, karena tidak memahami akar permasalahannya.

Mengapa?

Karena Indonesia sudah terlanjur asyik mengikuti neoliberalisme yang digagas Amerika. Sejak awal, nilai tukar dibuat tidak seimbang. Amerika sedang mempertahankan posisinya dengan mempermainkan nilai tukar. Kita lihat nilai tukar G7 tidak stabil, itu karena nilai tukar keuangan. Itu disebabkan oleh Amerika sebagai lokomotif ekonomi dunia dalam posisi tidak stabil. Satu-satunya negara yang tidak mau mengikuti lokomotif yang tidak stabil itu adalah China.

Pada 12 April 2010 di Washington, Presiden China Hu Jintao menyatakan kepada Obama, tidak satupun negara di dunia yang dapat campur tangan dalam nilai tukar Yuan. Alasannya, menurut Hu Jintao, ada lima.

Pertama, WTO tidak fair karena selalu membela kepentingan negara-negara maju saja. Kedua, IMF dan Bank Dunia tidak fair karena selalu berbicara tentang kepentingan Amerika. Ketiga, industri keuangan yang berbasis di Swiss Bassel tidak fair. Seolah-olah hanya ditujukan demi kepentingan mereka saja. Keempat, perubahan yang terjadi ditentukan oleh mereka sendiri bukan berdasarkan kepentingan bersama. Jadi keadilan dan kesetaraan itu tidak ada. Kelima, soal Global Climate Change (GCC), GCC itu dalam rangka menahan laju daya saing negara lain. Sementara Amerika bermaksud melakukan restrukturisasi industri untuk meningkatkan daya saingnya.

Itu yang saya lihat sama sekali tidak muncul (SBY tidak melawan seperti halnya Hu Jintao, red.) dalam sambutan Obama di Indonesia.

Bagaimana Anda memaknai pidato Obama pada Hari Pahlawan?

Menurut pendapat saya, kehadiran Obama pada 10 November 2010 justru membuktikan bahwa ia sudah berhasil melakukan hal kebalikan atas apa yang terjadi pada 10 November 1945.

Peristiwa 55 tahun lalu itu, sekutu yang dipimpin Amerika berhadapan dengan pekik "Allahu akbar!". Dan akibatnya mereka pergi tunggang langgang. Tetapi 10 November 2010, Obama datang dan mengatakan Amerika tetap berkuasa di Indonesia. Ucapan "assalaamu'alaikum"-nya dijawab wa'alaikumussalaam.

Saya terkejut. Itu salah. Karena kepada non-Muslim kita cukup menjawab salam atau wa'alaikum ketika mereka mengucapkan assalaamu'alaikum itu ajaran, itu hadits. Dan menariknya, umat Islam di Indonesia yang sudah berhasil dicuci otak (brainwash) oleh Amerika menyahuti assalaamu'alaikum-nya Obama juga dengan wa'alaikumussalaam.

Karena pada Desember 1949, Amerika melalui Belanda berhasil menjajah kembali Indonesia. Serta mulailah penjajahan di kalangan akademik atau cuci otak itu melalui Fakultas Ekonomi UI dengan Berkeley University. Serta terus begitu hingga sekarang, sehingga hasilnya adalah Indonesia salah dalam melihat kehadiran Obama.

Dengan begitu, sesungguhnya Obama sudah menunjukkan kondisi yang berbeda 180 derajat dibanding dengan peristiwa 10 November 1945. Pada 10 November 1945 adalah pekik Allahu Akbar berhasil menendang keluar sekutu yang dipimpin Amerika. Dan jawaban wa'alaikumussalaam 10 November 2010 mengokohkan penjajahan yang dipimpin Amerika.

Mengapa bisa terjadi?

Karena orang Indonesia mengidap tiga penyakit. Pertama, penyakit kekerasan simbolik (symbolic torture). Penyakit ini berupa kekaguman dan empati dari orang yang dijajah, ditindas, dan dieksploitasi, kepada penjajahnya. Mengapa bisa demikian? Karena otaknya sudah berhasil dicuci oleh penjajah.

Kedua, Sindrom Stockholm (Stockholm Syndrome). Korban kejahatan, pemerkosaan, berempati kepada penjahat dan pemerkosanya karena si penjahat, si pemerkosa tersebut berkomunikasi terhadap korban dengan sedemikian santun, lemah lembut, padahal perilakunya demikian kejam. Perilaku kejam itu sesungguhnya diperlihatkan Amerika di Irak, Darfur, Afghanistan, Palestina, Guantanamo. Lima tempat itu saja sebenarnya sudah cukup membuktikan bahwa Amerika itu sangat kejam.

Jadi, ketika Obama berkomunikasi dengan lemah lembut dan mengatakan saling menghormati (mutual respect), saling menguntungkan (mutual beneficial), mestinya orang Indonesia balik bertanya, di mana bentuk saling menghormatinya bila umat Islam di berbagai penjuru dunia dimusuhi dengan tuduhan terlibat terorisme? Di mana saling menguntungkannya sementara semua negara Islam, terutama yang kaya minyaknya, dipenetrasi Amerika?

Nah, itu semua sesungguhnya menunjukkan tidak ada mutual respect dan mutual beneficial. Di balik kelemahlembutan diplomasi Obama, ada tingkat kekerasan yang amat sangat bengis. Jadi sebenarnya Obama tidak berbeda dengan presiden-presiden Amerika sebelumnya.

Penyakit ketiga?

Simplikasi menyesatkan (misleading simplytication). Orang yang tidak mengetahui banyak, hanya mengerti kemasan, hanya mengerti judul, tetapi mencoba mematut-matut diri mengerti kemasan dan judul tadi, tetapi tidak tahu isi, kedalaman, dan konsistensinya, lalu dia berbicara tentang hebatnya sesuatu itu.

Hebatnya, itu justru menjungkirbalikkan apa yang dia tahu karena isi, kedalaman, dan konsistensinya tidak ada. Contohnya adalah Bank Dunia yang selalu dikangkangi Pentagon, IMF yang selalu bisa diembargo dan veto oleh Amerika. Tapi mereka mendukung Bank Dunia dan IMF, dan mereka bilang keduanya lembaga hebat.

Korban penyakit ini biasanya adalah masyarakat yang suka bertutur tetapi tidak suka membaca dan tidak tahu tentang kedalaman sesuatu yang diucapkannya. Sehingga seringkali terjebak dan suka mengikuti arus utama meskipun arus utama tersebut salah. Penyakit ini pun ternyata dibentuk oleh media massa yang juga sudah terjungkir balik.

Bagaimana agar kita bisa sembuh dari ketiga penyakit tersebut?

Baca al-Quran dan Hadits dengan baik. Karena bagi umat Islam, penyakit tersebut terjadi lantaran tidak membaca al-Quran dengan baik, sehingga sikapnya terhadap Obama demikian hebat. Mereka tidak membaca hadits bagaimana seharusnya menghadapi manusia semacam Obama itu.

Itulah yang sama sekali tidak dikritisi oleh orang Indonesia, baik yang di panggung kekuasaan, akademik, ataupun media massa. Mayoritas orang Indonesia begitu tersihir oleh yang namanya Obama. Kalau sampai tersihir itu terbukti tingkat keimanan dan keilmuan orang Indonesia di bawah Obama.

Itu artinya umat Islam tidak memegang al-Qurannya. Itu artinya kita masih ragu dengan alyauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu 'alaikum ni'mati wa radhiitu lakumul islama diina (pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, telah Ku-cukupkan nikmat-Ku padamu, telah Ku-ridhai Islam menjadi agamamu). Kita meragukan ilmu yang kita pegang itu demikian sempurna, karena bisa disihir oleh yang namanya Obama.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*