Arti Tanah bagi Umat Islam

Oleh: Reza Ageung S.1

Hari ini adalah hari kelima sejak Referendum Sudan Selatan. Referendum itu sendiri adalah rekomendasi dari Kesepakatan Perdamaian Komprehensif yang ditelurkan pada tahun 2005 untuk mengakhiri konflik utara-selatan di Sudan yang sudah berlangsung beberapa dekade. Para pengamat mengatakan bahwa besar kemungkinan rakyat Sudan Selatan yang mayoritas Kristen akan memilih merdeka, meski presiden Sudan Umar al-Basyir mengatakan bahwa Selatan tidak akan mampu meng-handle kekacauan pasca referendum.

Yang jelas, Amerika Serikat sudah menekan pemerintah negara-negara tetangga untuk mendukung referendum ini, yang berarti kira-kira sepertiga wilayah Sudan akan lepas dari genggaman pemerintah al-Basyir yang naik tahta pada 1989 berkat kudeta yang juga disokong Hasan Turabi, pemimpin gerakan Islam (yang kini balik beroposisi).

Bukan hanya lepas dari genggaman penguasa, separatisasi di negara terbesar Afrika ini juga artinya lagi-lagi umat Islam kehilangan petak tanahnya. Hingga, patut dipertanyakan pada diri kita sendiri : seberapa berarti tanah bagi kita, umat Islam? Secara kasat mata : nihil! Kita melepas tanah kita satu per satu kepada penjajah.

Hal ini berakar pada pemahaman kita tentang Islam. Islam seperti apa yang kita yakini? Penjajah telah menanamkan doktrin pada otak kita bahwa Islam adalah sekedar seperangkat keyakinan ritual. Islam yang seperti itu tidak butuh tanah atau wilayah, cukup jalankan ritual-ritual agama, selesai perkara. Namun, Islam yang ideologis, Islam yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad saw, menuntut kita untuk memikirkan tanah. Ini karena sebuah ideologi memerlukan teritori sebagai wilayah berlakunya sistem yang lahir dari ideologi tersebut. Ideologi Islam meniscayakan pemerintahan, rakyat, aturan dan wilayah. Itulah arti tanah bagi umat Islam.

Oleh karenanya, Muhammad saw, tidak hanya mendakwahkan praktek ritual. Dalam satu fase perjuangan ideologisnya, beliau mencari dukungan kabilah kuat dan tanah untuk ditegakkan di atasnya aqidah dan syariah Islam. Hingga pada akhirnya, beliau saw mendapatkan tanah Yatsrib, yang dihuni kabilah militan Aus dan Khazraj, sebagai teritori pertama bagi pemerintahan Islam.

Setelah umat memiliki tanah, syariah masih memberikan perintah guna mempertahankan tanah. Ada syariat untuk berjihad yang hukumnya fardhu ain untuk membela tanah (dan tentu juga penduduknya) yang diserbu pasukan kafir, ada syariat tentang tanah kharaj sebagai mekanisme perlakuan terhadap tanah taklukan. Syariah juga membuka pinta eksplorasi bagi umat terhadap tanah miliknya. Hasil hutan dan pertanian di permukaan, dan hasil bumi di bawahnya, disediakan Allah sebagai suguhan bagi umat Islam sebagai pemegang mandat khalifah fil ardh. Dengannya umat Islam membangun kesejahteraan dan menyusun kekuatan (i’dadul quwwah) dalam bidang teknologi, ekonomi, industri dan militer guna menghadapi kaum kuffar.

Tanah yang dihuni umat, adalah juga senjata politik. Saat ini umat menduduki titik-titik terpenting dan terstrategis di planet ini. Timur tengah, Laut tengah, Afrika Utara, Asia tenggara, adalah jalur strategis sejak abad pertengahan hingga kini. Umat Islam memiliki posisi geopolitik yang menjanjikan, andai saja umat memiliki kesatuan politis di bawah satu pemerintahan.

Lalu kita memanen dosa-dosa kita. Saat ini total wilayah Dunia Islam (termasuk Andalusia/Spanyol), tanah air kita, adalah sekitar 32, 5 juta km persegi, masih lebih luas dibanding Amerika serikat atau Eropa. Lantas hilanglah Palestina seluas 22 ribu km persegi dari pegangan kita. Belakangan, kita melepas Afghanistan seluas 647.500 km persegi dan Irak 438.317 km persegi dan memberikan tanah beserta isinya kepada Amerika. Lima abad yang lalu, kita kehilangan Andalusia seluas 600 ribu km persegi, dan kemarin kita membiarkan Sudan Selatan seluas kira-kira 800 ribu km persegi lepas menjadi mainan penjajah. Semuanya hasil konspirasi orang-orang yang kita sebut sebagai penguasa, dan kita hanya diam tanpa ada protes yang berarti.

Alangkah lalainya kita!

Sumber: MuslimDaily.net

  1. Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah, Balikpapan. Alumni HATI angkatan 2003. []

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*