Invasi Pendidikan di Dunia Islam

Oleh: Andika Permadi Putra1

Tidak dapat dipungkiri, kemuduran umat Islam pada abad-abad akhir meninggalkan suatu celah dalam semua aspek kehidupan, sehingga dengan cepat dimanfaatkan oleh dunia barat (kafir) dengan menyebarkan imperialismenya. Semua aspek, tidak terkecuali terkena oleh invasi besar-besaran ini.

Salah satu yang paling mendapat perhatian ialah bidang pendidikan. Mengapa pendidikan begitu dirasa penting? Sebab pendidikan memang merupakan tulang punggung suatu bangsa untuk memajukan bangsa tersebut. Begitu pula dunia Islam pada masa itu. Di saat umat Islam menguasai dan jaya hampir di seluruh belahan dunia, umat Islam memang sangat memperhatikan pendidikan bagi umat Islam sendiri mulai dari usia dini sampai dewasa dan bisa berusaha sendiri.

Apalagi di al Qur’an, Allah telah berfirman: “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (al Mujaadilah: 11)

Sehingga umat Islam semakin yakin bahwa ilmu dapat menaikkan derajat seseorang dan suatu kaum, dan memperhatikan pendidikan dengan sangat baik. Ternyata dunia barat melihat hal ini sebagai suatu kunci keberhasilan dunia Islam. Maka dirancanglah suatu serangan yang “tak terlihat” untuk menlumpuhkan kunci keberhasilan ini.

Sekarang mari kita lihat pendidikan di dunia Islam saat ini. Kita mengambil contoh di Indonesia sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia. Ternyata para pelajar di Indonesia sekarang kehilangan orientasi dalam menjalani proses pendidikan. Mereka lebih cenderung menginginkan memperoleh nilai yang bagus dalam belajar, dibanding memperoleh pemahaman yang mendalam dan kuat.

Mengapa menginginkan nilai yang bagus? Sebab, jika mampu memperoleh nilai yang bagus mereka dapat lulus dengan predikat baik yang diberikan oleh sekolahnya, dan dengan rekomendasi tersebut mereka dapat dengan mudah memperoleh pekerjaan di tempat yang bagus, dalam artian perusahaan yang bergengsi, dan dengan itu upah yang besar menjadi miliknya. Dengan upah yang besar maka kesejahteraan, kekayaan, dan kehormatan dapat diperoleh.

Dari fenomena ini kita dapat melihat bahwa motivasi belajar dari seorang pelajar (pada contoh) sudah terarahkan pada hal-hal yang berbau materialistic. Ada yang berpendapat hal ini wajar. Sebab segala sesuatu pastinya tidak bisa terlepas dari yang namanya materi. Mau berbuat baik sekalipun, kita tetap butuh materi. Tidak ada yang menyangkal hal ini.

Sehingga pada akhirnya, penilaian materialistic atau tidak tetap kembali pada pribadi si pelajar. Apakah ia belajar memang semata-mata hanya untuk meraih kekayaan duniawi ataukah ia belajar untuk kekayaan duniawi dan nantinya harta yang telah diperoleh digunakan untuk hal-hal yang mendukung kebaikan, semisal membantu masyarakat, amal-amal social dan lain-lain.

Paham materialistic dalam dunia pendidikan sudah begitu mengakar dan sulit untuk dilepaskan. Mengapa? Karena pendidikan kita sudah keliru dalam membentuk pola pikir orang-orang cerdas kita. Pendidikan kita cenderung hanya focus dalam hal-hal yang bersifat teknis dan ternyata ini juga mengikuti pola pendidikan di barat. Kita bisa melihat bahwa begitu banyak sekolah-sekolah yang berlomba-lomba untuk meraih predikat sebagai sekolah berstandar internasional dengan acuan Cambridge, misalnya. Atau bisa kita liat juga di mana pelajaran bahasa inggris begitu ditekankan dan diutamakan di sekolah-sekolah. Padahal bahasa arab ternyata juga tidak kalah utama, apalagi karena kita adalah umat Islam, yang seluruh ilmunya menggunakan bahasa arab sebagai pengantar.

Inilah yang biasa disebut sebagai globalisasi. Namun kelihatannya lebih cocok dikatakan sebagai westernisasi. Karena secara jelas barat dijadikan sebagai acuan bahkan dalam membangun pendidikan. Di mana pendidikan itu ialah tulang punggung untuk tegaknya suatu umat.

Jika kita cermati, pendidikan menjadi begitu berbau materialistik dikarenakan dasarnya pokok pemikirannya.

Pendidikan barat memahami bahwa ilmu pengetahuan dikembangkan untuk memudahkan kehidupan manusia. Hal ini jelas berbeda dengan di dunia Islam. Islam mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan dikembangkan untuk memahami kebesaran Allah azza wa jalla, dan akhirnya semakin memantapkan iman orang yang mempelajari ilmu pengetahuan.

Di sinilah masalah pokoknya. Sering pula dikatakan, pendidikan barat hanya mengajarkan siswanya menjawab pertanyaan “bagaimana”, sementara pendidikan Islam mengajarkan siswanya untuk menjawab pertanyaan “mengapa”. Pertanyaan “bagaimana” dapat dijawab dengan jawaban berupa proses. Sedangkan pertanyaan “mengapa” hanya dapat dijawab dengan jawaban berupa alasan.

Dengan pertanyaan “bagaimana” siswa hanya dapat memahami hal-hal yang bisa diindera. Sedangkan dengan pertanyaan “mengapa” siswa dapat memahami alasan terjadinya suatu fenomena hingga sampai pada alasan yang bernilai ilahiyah.

Wallahu a’lam bisshowab.

  1. Mahasiswa S1 Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), angkatan 2010 []

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*