Ada Yang Mau Datang


'Sate', 'baso', dan 'nasi goreng'. Kira-kira, itu adalah segelintir kata dalam bahasa Indonesia yang masih diingat seorang presiden negara adidaya yang katanya, dulu sempat tinggal di daerah Menteng, Jakarta. Yups, dia adalah Barack Obama, orang yang saat ini menduduki kursi Presiden Amerika Serikat di White House.

Ya, kita masih ingat, beberapa waktu yang lalu, Pak Obama ini datang ke Indonesia untuk melakukan 'silaturahmi' ke negara kita, dalam rangka melakukan kerja sama yang komprehensif dengan negara kita. Sorak sorai bergembira diekspresikan oleh sebagian rakyat Indonesia, termasuk RI-1 dan RI-2, yang menyambutnya di gedung tempat mereka sehari-hari memonitoring pemerintahan dan melakukan berbagai eksekusi kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, yaitu kita, rakyat sipil.

Di saat itulah, Obama, dengan disiarkan secara eksklusif oleh berbagai stasiun TV swasta, mengeluarkan jurus-jurus maut yang mengundang tawa para peserta jamuan, entah karena terpaksa untuk menghormati sang presiden, atau memang karena merasa lucu oleh kefasihan lidah presiden kulit hitam Amerika itu.

Ya, saat itu ia mengatakan dengan penuh canda, 'sate', 'baso', 'nasi goreng', bahkan kalau masih ada waktu, kayaknya dia akan menyebutkan seluruh daftar menu di pujasera deket rumah saya, he he...

Obama mau dateng lagi? Waspada!
Kedatangan Obama saat itu, selain disambut dengan sukacita, banyak juga hinaan dan makian yang terlempar. Loh, kok bisa? Tentu saja, karena mereka melihat dari sisi lain. Orang-orang yang tidak menginginkan kedatangan Obama ini kebanyakan menganggap bahwa Obama adalah biang kerok pembantaian saudara-saudara mereka, yaitu saudara muslim, dan sebagian besar penduduk Indonesia memang beragama Islam.

Sementara orang yang menginginkan kedatangan Obama karena mereka menganggap Obama adalah berkah, juru selamat, dan bahkan sebagian kalangan menyitir hadist serta ayat al-Qur'an untuk menerimanya sebagai tamu yang layak dihormati. Sebenernya, bagaimana sih sikap yang musti kita miliki?

Dalam kitabnya yang terkenal, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa kafir itu terbagi menjadi dua macam dalam hubungannya dengan kita. Yaitu kafir harbi dan kafir dzimmi. Sederhananya, kafir harbi adalah kafir yang secara nyata memusuhi kaum Muslim dalam bentuk fisik dan penjajahan, sedangkan kafir dzimmi adalah kafir yang rela tunduk di bawah pimpinan negara Islam (khilafah).

Sementara Obama dan sekutunya? Segudang bukti yang terekspos secara terang-terangan saya rasa telah cukup untuk menyatakan bahwa mereka secara nyata menjajah kita, baik melalui fisik maupun pemikiran. Bukankah Amerika yang menginvasi Iraq dengan dalih mencari nuklir? Dan Amerika juga yang memborbardir Afganishtan tanpa belas kasihan? Dan apakah tidak cukup jelas bahwa Amerika lah yang menjadi pendana terbesar senjata-senjata Israel untuk menumpahkan darah saudara-saudara kita di Palestina?

Selain penjajahan fisik, Amerika dan sekutunya juga menjajah kita melalui pemikiran, seperti pemahaman nasionalisme, sekulerisme, hedonisme, dan lain-lain. Mereka ingin menjauhkan kita dari Islam, ideologi kita satu-satunya, dan menggantikannya dengan ideologi kapitalisme (atau sosialisme dari Uni Soviet). Dan inilah sebenarnya problematika utama kita.

Lalu?
Nah, sekarang gini. Saya mau ngasih analogi. Andaikan ada seseorang yang terkenal sebagai penjahat. Beritanya tersiar kemana-mana, termasuk kita juga sudah mengetahuinya. Tiba-tiba, penjahat tersebut mengirim SMS ke kita, "Saya akan mencuri hartamu!" (kayak Lupan gitu) Apa yang kira-kira kita lakukan? Menyiapkan penyambutan untuk menjamunya dengan makanan dan minuman yang mewah? Ya kagak! Pasti kita akan mempersiapkan pertahanan diri untuk melawan penjahat tersebut. Sama halnya dengan kita yang sudah tahu tentang Obama. Beberapa saat lagi, Obama akan datang ke negeri ini lagi, ikutan dalam kopi darat negara ASEAN.

Jangan sampai kita mengulangi kesalahan. Inget! Kita harus menempatkan konteks yang tepat! Dalam hal ini, bukan saat yang tepat untuk membicarakan tentang khusnuzan, akhlak menerima tamu, toleransi, dan sebagainya. Tapi yang kita bicarakan saat ini adalah sebuah analisis, common sense, dan pengalaman yang selalu berulang dan persis, bahwa setiap kedatangan negara-negara sekutu, setiap kerja sama yang mereka tawarkan, dan apapun, kecuali pasti untuk mencengkram kaum muslim dengan fisik maupun pikiran. Wallahu 'alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*