Ancaman bagi Orang yang Ragu

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata (TQS al-Hajj [22]: 11).

Ketika seseorang telah mendeklarasikan di-rinya sebagai orang Mukmin, maka tash-dîq (pembenaran) terhadap aqidah Islam harus sampai tataran yaqîn. Yakni pembenaran yang pasti, tidak diliputi ada sedikit pun keraguan dan kebimbangan. Manakala kepercayaan itu masih tercam-pur dengan keraguan, peluang untuk ingkar dan keluar dari Islam sangat besar. Kerugian besarlah yang didapat oleh orang seperti ini. Realitas ini dengan jelas dijelaskan oleh ayat di atas.

Dalam Keraguan

Allah SWT berfirman: Wa min al-nâs man ya'budul-Lâh 'alâ harf (dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi). Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ada seorang laki-laki yang datang ke Madinah dan masuk Islam. Apabila isterinya melahirkan anak laki-laki atau kudanya beranak, dia berkata, "Ini adalah agama yang baik." Namun ketika isterinya tidak melahirkan anak laki-laki dan kudanya tidak beranak, dia berkata, "Ini adalah agama yang buruk." Lalu turunlah ayat ini.

Huruf min di sini memberikan makna tabi'îdh (menyatakan sebagian). Artinya, ada sebagian manusia yang menyembah Allah SWT 'alâ harf. Dijelaskan al-Raghib al-Asfahani dalam al-Mufradât fî Gharîb al-Quran, kata harf al-syay` berarti tharfuhu (tepi atau pinggir sesuatu). Dicontohkan seperti harf al-sayf wa harf al-safînah wa harf al-jabal (tepi pedang, tepi sungai, atau tepi gunung).

Karena posisinya yang berada di pinggir, maka orang yang berdiri di atasnya tidak akan kokoh dan kuat. Peluang untuk roboh, ke kiri atau ke kanan, ke depan atau ke belang sangat besar. Bergantung dengan tekanan mana yang lebih kuat.

Tampaknya gambaran inilah yang dimaksud ayat ini. Sebagamaina dijelaskan jumhûr al-mufassirîn demikian menurut al-Wahidi-- kata harf di sini bermakna al-syakk (keraguan). Selain ragu, menurut al-Samarqandi mereka juga melakukan-nya atas dasar riya dan bukan karena Allah SWT. Dijelaskan al-Baidhawi, gambaran bahwa mereka berada di pinggir agama itu seperti seorang tentara yang berada dalam barisan pinggir. Apabila dia melihat tanda-tanda kemenangan, dia tetap ber-gabung, Manakala dia melihat sebaliknya, dia segera melarikan diri.

Dalam Fath al-Qadîr al-Syaukani mengatakan, "Orang yang menyembah Allah 'alâ harf itu gelisah dalam agamanya, tidak teguh dan tidak tenang, seperti orang yang berada di tepi gunung dan semacamnya, benar-benar gelisah dan lemah berdirinya. Oleh karena itu, kepada orang yang ragu dalam agamanya dikatakan: Sesungguhnya dia menyembah Allah di atas harf. Sebab, dia tidak yakin terhadap janji dan ancaman-Nya. Hal ini berbeda dengan orang Mukmin yangmenyembah Allah SWT atas dasar keyakinan dan hujjah."

Al-Hasan, sebagaimana di-sitir al-Baghawi, menyebut bahwa mereka itu adalah orang munafik, yang menyembah Allah SWT dengan lisannya dan tidak dengan hatinya. Kesimpulan tersebut amat tepat mengingat karakteristik demikian lazim terdapat pada kaum munafik. Mereka disebut sebagai kaum mudzabdzabîn (orang-orang yang berada dalam keraguuan) antara keimanan dan kekufuran, sebagaimana diberitakan dalam firman-Nya: Mereka dalam ke-adaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir) (TQS al-Nisa' [4]: 143).

Berpatokan kepada Manfaat

Gambaran keadaan mereka yang labil dan tidak memiliki pendirian yang kokoh semakin jelas dengan frasa selanjutnya: Fa in ashâbahu khayr[un] [i]thmaan-na bihi (maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu). Menurut al-Baghawi, khayr[un] di sini bermakna sehat jasmani dan luas rezekinya. Tak jauh berbeda, Sihabuddin al-Alusi yang menaf-sirkannya sebagai kebaikan duniawi, seperti kelapangan rezeki, kesehatan, anak, dan semua yang disukai.

Ketika memperoleh ber-bagai kenikmatan duniawi itu, mereka pun ithmaanna bihi. Menurut al-Jazairi, pengertian ithmaanna bihi di sini adalah senang dan ridha kepada Islam. Namun ditegaskan al-Alusi bahwa sikap ithmaanna bihi mereka itu tidak sama dengan kaum Mukmin yang benar-benar kokoh dan teguh terhadap Islam, tidak bergoyang oleh angin dan tidak bengkok oleh pujian.

Karena diliputi dengan keraguan dan pendirian yang lemah, sikap mereka pun dengan mudah berubah manakala ditimpa oleh bencana dan kesulitan. Allah SWT berfirman: wa in ashâbat-hu fitnah [i]nqalaba 'alâ wajhihi (dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang). Menurut al-Alusi, fitnah di sini berarti segala sesuatu yang memfitnahnya berupa perkara-perkara yang tidak disenangi, baik dalam dirinya, keluarganya, dan hartanya. Sedangkan yang dimaksud dengan [i]nqalaba 'alâ wajhihi adalah murtad dan kembali dari agamanya kepada kekufuran.

Jika dicermati, sesungguhnya yang mereka jadikan sebagai patokan dalam bersikap adalah manfaat material dan kemaslahatan duniawi. Termasuk ketika mereka menyembah Allah SWT. Tindakan itu hanya mereka lakukan tatkala mendapatkan manfaat material dan kemaslahatan duniawi. Bukan atas dasar keyakinan yang tulus. Oleh karenanya, ketika semua kese-nangan mereka itu lenyap, dengan cepat mereka berbalik sikap, keluar dari Islam.

Sikap mereka yang mendasarkan pada kemaslahatan materi itu juga dapat dijumpai dalam firman Allah SWT: Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh (TQS al-Nur [24]: 48-49). Dalam ayat ini secara jelas digambarkan bahwa kaum munafik itu hanya mau tunduk terhadap keputusan Rasulullah SAW manakala keputusan itu menguntungkan mereka. Menurut Fakhruddin al-Razi, karakter mereka itu juga sejalan dengan firman Allah SWT: Maka jika kamu mendapatkan keme-nangan dari Allah mereka berkata: "Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?" Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: "Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?" (TQS al-Nisa' [4]: 141).

Kerugian yang Nyata

Terhadap orang yang bersi-kap demikian, Allah SWT mene-gaskan dalam frasa selanjutnya: Khasira al-dun-yâ wa al-âkhirah (rugilah ia di dunia dan di akhirat). Mereka memang bisa mendapatkan kesenangan duniawi. Tetapi duniawi itu sangat sedikit (matâ' qalîl). Tidak sebanding dengan kecelakaan yang menimpa mereka. Oleh karena itu, sesungguhnya yang mereka dapatkan hanya kerugian, baik di dunia dan akhirat. Menurut Fakhruddin al-Razi, kerugian mereka di dunia adalah kehilangan kemulian, kehormatan, bagian ghanimah, dan kelayakan dalam kesaksian, imamah, dan peradilan. Harta mereka juga tidak lagi terjaga. Sedangkan kerugian di akhirat, mereka kehilangan pahala yang kekal dan ditimpa siksa yang abadi.

Kerugian mereka itu ditegaskan lagi dalam penutup ayat ini: Dzâlika huwa al-khusrân al-mubîn (yang demikian itu adalah kerugian yang nyata). Siksa neraka yang amat pedih dan kekal abadi jelas amat tidak seimbang dengan kesenangan duniawi yang mereka dapatkan. Kerugian itu demikian jelas. Sebagaimana dikatakan al-Samarqandi, frasa ini bermakna al-zhâhir al-bayyin (benar-benar tampak nyata). Menurut al-Baidhawi dikatakan demikian karena tidak ada kerugian yang semisalnya.

Ayat ini telah memberikan pelajaran amat penting bagi kita. Agar kita selamat dan beruntung, tidak celaka dan menderita kerugian seperti mereka, keimanan kita harus benar-benar tulus. Tidak boleh diliputi keraguan dan kebimbangan, apalagi tercampur dengan tendensi materi. Semoga kita termasuk dalam golongan mu'minûn mukhlishûn. WalLâh a'lam bi al-shawâb.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*