Industrialisasi Pendidikan

Oleh: Rira Nurmaida

Dunia modern tak menyisakan sesuatupun yang tidak bisa dihargai dengan materi. Nilai dibatasi oleh mata uang. Sejarah direduksi terkait produksi dan konsumsi. Begitulah hidup dibentuk dan diselenggarakan. Tak terkecuali pendidikan. Sebagai salah satu komoditas, secara umum, harga menunjukkan rupa. Yang lebih mahal biasanya lebih baik. Namun sebagaimana komoditas lain yang biasanya mengelabui pembeli dalam kualitas, pendidikan berbandrol mahal pun terkadang sekadar omong kosong—yang mahal itu capnya.

Saat ini banyak orang yang mempertaruhkan aset demi “pendidikan” (sebagai investasi untuk memperoleh aset lebih banyak lagi, tentu saja), tapi bahkan tidak terlalu peduli lagi dengan proses pendidikan pendidikan seperti apa yang semestinya didapat. Hal itu karena hasil pendidikan sudah sangat jelas: ijazah. Nyaris tak ada yang rela merepotkan diri bertahun-tahun di akademi pendidikan dan keluar tanpa menggenggam kertas sakti itu.

Tak ada yang begitu peduli dengan kapasitas atau kompetensi lulusan. Kalau sudah berijazah maka sudah qualified untuk masuk dunia kerja. Ijazah tak lebih dari sertifikasi quality control produk (lulusan) yang keluar dari pabrik (sekolah). Fungsinya tidak lain menunjukkan lulusan siap dikonsumsi oleh sistem kapital sebagai buruh “terdidik”.

Dengan demikian pendidikan zaman ini tak ubahnya merupakan industri belaka. Ia mengubah bahan mentah (siswa) menjadi produk akhir (lulusan berijazah). Banyak yang menyadari hal ini, hingga sempat tercetus ungkapan, “para homo sapiens mendaftar ke sekolah dan lulus sebagai homo roboticus”. Aspek kemanusiaan dan memanusiakan yang hilang dalam proses pendidikan dianggap wajar sebagai warga yang harus dibayar atas nama kemajuan. Hidup begitu sibuk dan bergerak cepat dalam kompetisi.

Kemudian jika siswa adalah bahan, sekolah adalah pabrik, guru itu apa? Buruh pabrik tentu saja. Pekerjaan mulia yang dulu diagungkan tanpa tanda jasa itu, kini telah lama tergusur napas industri. Guru yang sejatinya menuntun dari gelap pada terang; menjadi teladan; kini sekedar satu dari berbagai profesi dalam industri. Tepatnya industri jasa pendidikan. Orangtua dan siswa yang selayaknya menghargai guru sebagai penyampai ilmu dan pembimbing, memandangnya tak lebih dari pekerja. Seseorang yang dibayar untuk memberi jasa. Guru yang memikirkan moral siswa biasanya dianggap terlalu ikut campur. Guru hanya dituntut memberi pelayanan terbaik. Pelayanan apa yang dimaksud? Tentu saja melakukan pekerjaan pabrikan, mengubah barang mentah (siswa) jadi produk akhir (lulusan berijazah). Ijazah didapat bila lulus ujian. Aktivitas ujianpun biasanya menyelesaikan sejumlah soal yang bobotnya kurang tepat bila dianggap sebagai instrumen evaluasi penguasaan ilmu. Yang penting nilai tinggi dan lulus ujian maka demi hal itu semua upaya ditempuh. Guru yang putus asa pun mengajari teknik-teknik berbuat curang, semuanya demi lulus ujian, demi ijazah yang telah jadi tujuan.

Jadi, apa saja yang kita dapat dari industri jasa pendidikan ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*