Sekilas Pandang Pendidikan Islam

Oleh: Rira Nurmaida

Sekian tahun berada dalam institusi pendidikan, sudahkah kita sungguh-sungguh memaknai pendidikan? Bagaimana pendidikan seharusnya terselenggara? Untuk apa?

Terma education dalam Bahasa Inggris berakar dari kata Latin educare yang dibentuk dari dua kata ex (keluar) dan ducere (memimpin); diinterpretasikan sebagai memimpin keluar dari ketidaktahuan/mengeluarkan potensi intelektual seseorang. Sementara dalam Bahasa Arab, untuk merujuk pendidikan digunakan tarbiyah, akar katanya rabba-yarabbu yang salah satu maknanya aslahahu (memperbaiki). Namun ada juga intelektual Islam seperti Syaikh Naqib al-Attas yang lebih memilih kata ta’dib untuk merujuk pendidikan dengan kata dasar addaba, yang artinya memberi adab. Dari beberapa tinjauan etimologis tadi, pendidikan secara umum merujuk pada aktivitas memimpin, memperbaiki, memberi sesuatu agar manusia keluar dari ketidaktahuan, mengeluarkan intelektualitasnya, untuk menjadi lebih beradab.

Pengertian di atas tentu masih terlalu umum untuk mendekatkan kita pada makna pendidikan yang khas, yang praktis, dan mungkin diimplentasikan. Parameter intelektualitas atau beradab misalnya, tidak memiliki ukuran universal yang disepakati semua orang. Ada yang berpendapat bahwa kecerdasan seseorang terindikasi dari kemampuannya memecahkan persoalan sains (natural maupun sosial) yang rumit. Sementara yang lainnya menuntut agar kecerdasan itu juga disertai dengan keterampilan manajerial dan interpersonal. Pihak berikutnya menihilkan itu semua dan berkata intelektualitas seperti itu tak ada artinya tanpa budi pekerti yang baik. Mereka pun berdebat tentang standar-standar budi pekerti, dan akhirnya terdampar pada polemik yang sulit diakhiri karena pijakan nilai yang beragam. Dengan demikian, membicarakan pendidikan akan terkait erat dengan sistem nilai yang digunakan sebagai basis. Bila hanya memiliki patokan-patokan kabur dalam menentukan kualitas keluaran sistem pendidikan di Indonesia seperti yang tercantum dalam UU Sisdiknas tanpa disertai landasan ideologi yang jelas, hasilnya sekedar membuat sistem pendidikan tak tentu arah. Kualitas lulusan seperti hasil perjudian, yang baik atau buruk didapat secara acak dengan pengaruh faktor-faktor di luar pendidikan formal yang lebih dominan dalam membentuk kompetensi maupun kepribadian siswa.

Adapun dalam Islam, pendidikan tidak terlepas dari upaya untuk menyiapkan manusia menjalankan kehidupannya di bumi sesuai dengan tujuan penciptaannya. Dalam al-Qur’an Surat adz-Dzaariyat ayat 56 diungkapkan bahwa: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku“. Dalam Islam yang bersifat syumul (menyeluruh), ibadah tidak sebatas aktivitas ritual, tapi mencakup setiap dimensi kehidupan. Dengan demikian proses pendidikan dalam artian menyiapkan hamba Allah yang taat bukan semata berisi materi peribadatan, tapi lebih luas lagi adalah membentuk kepribadian Islam yang paripurna disertai berbagai ilmu pendamping yang dibutuhkan.

Karena itulah, pendidikan dalam Islam bukan sekedar formalitas dan monopoli institusi. Hal ini tergambar dalam hadits, “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat“ (H.R. Ibnu Majah). Setiap muslim diharapkan mendapat pendidikan sedini mungkin. Tanggung jawab pertama dan utama dalam pendidikan jatuh pada orangtua, terutama ibu. Dalam interaksi dengan anak, bahkan sebelum dilahirkan, ibu hendaknya sudah membiasakan anak dengan ayat-ayat ilahi. Membesarkannya dalam suasana Islami, orangtua dituntut menjadi teladan pertama bagi anak dalam hal ketaatan pada Allah, sehingga ia tumbuh menjadi hamba Allah yang bertaqwa. Pekerjaan ini tentu tidak mudah, karenanya Islam telah merumuskan pembagian peran yang tepat antara ibu dan ayah. Peran utama wanita sebagai ibu dan manajer rumah tangga adalah demi mengemban amanah yang berat ini, memenuhi hak anak atas pengasuhan dan pendidikan sesuai Syari’at Islam. Di luar lingkungan keluarga, masyarakat pun memiliki andil dalam pendidikan anak dengan menyediakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembangnya.

Hingga masa baligh saat seorang muslim menjadi mukallaf (terbebani hukum syara‘), menuntut ilmu pun menjadi wajib baginya. Pendidikan yang diterimanya sejak dini hingga menjelang baligh seharusnya sudah siap untuk membuatnya siap menanggung seluruh hukum syara‘ sebagai orang dewasa. Karena itu tidak mengherankan bila generasi terdahulu yang menerima pendidikan Islam yang benar tumbuh menjadi pribadi-pribadi berkepribadian Islam dan menorehkan prestasi brilian saat belia. Pada usia belasan hingga awal 20-an tahun—ketika generasi zaman modern ini dikelompokkan pada kategori remaja yang minta dimaklumi kelabilannya—mereka telah memegang posisi strategis dalam negara: ulama, panglima perang, hingga kepala negara.

Islam tidak begitu saja membebankan kewajiban menuntut ilmu pada setiap individu. Sebagai sebuah diin yang komprehensif dan memiliki panduan tata kehidupan yang lengkap, Islam menuntut negara untuk memfasilitasi warganya melaksanakan kewajiban. Selain itu, pendidikan memang disadari fungsi strategisnya sebagai pilar penyangga peradaban. Dengan menyelenggarakan dan menyediakan akses terbuka atas seluruh rakyatnya untuk mempelajari tsaqafah Islam sebagai ilmu yang wajib ‘ain dipelajari dan ilmu pengetahuan lain yang wajib kifayah mencakup, sains, teknologi, seni, sosiologi, filsafat, sejarah, dll, Negara Islam memastikan dirinya memiliki pondasi kuat bagi peradaban sekaligus sumber daya pengembangan peradaban yang progresif. Negara membebaskan biaya; menyusun kurikulum; juga memperkaya fasilitas pengkajian, perpustakaan, percetakan, asrama, laboratorium, observatorium, dan segala kelengkapan lainnya.

Meski pantauan kualitasnya dilaksanakan secara ketat oleh Negara, hal ini tidak menyebabkan pendidikan dalam Negara Islam dijadikan alat peneguh kekuasaan rezim tertentu. Bila diselenggarakan dengan tepat, pendidikan Islam, tetap menjadi institusi yang membebaskan manusia. Membebaskannya dari ikatan terhadap makhluk, dan menyandarkan seluruh harapan atas kemuliaan dan ketaatannya pada Allah semata dengan jalan menjadi hamba yang paripurna.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*