Hukum Menghina Nabi Muhammad SAW

Penghinaan terhadap Nabi saw. seakan-akan datang silih berganti. Belum juga usai berita mengenai film nonprofit "Innocence of Muslim" karya seorang yahudi Becille, salah satu koran di Prancis juga tidak mau kalah dengan menampilkan beberapa karikatur Nabi Muhammad yang menampilkan pelecehan yang luar biasa. Ini bukan yang pertama kalinya. Beberapa waktu lalu Geert Wilders dari Belanda membuat film yang menyatakan bahwa Islam adalah ideologi setan dan biang teroris. Karikatur Nabi Muhammad pun juga pernah dimuat di salah satu koran di Denmark. Belum lagi bertebarannya penghinaan Nabi Muhammad dan Islam secara umum di channel, forum, dan situs di dunia maya melalui gambar, film, ataupun literatur. Ironisnya, secara dzohir hanya terlihat sebagian saja diantara 1,5 Milyar kaum muslim yang menyuarakan dan mempermasalahkan penghinaan dan pelecehan ini. Sisanya? Mereka terlalu sibuk di dunia kuliah, kerja, ataupun bersenang-senang.

Permasalahan
Mencela, mengolok-olok, mencaci-maki, ataupun merendahkan martabat Rasulullah saw., dalam terminologi fikih Islam dikenal dengan istilah sabba ar-Rasûl atau syatama ar-Rasûl. Untuk mengetahui lebih lanjut kata-kata atau kalimat-kalimat seperti apa yang terkategori sabba ar-Rasûl, ada baiknya kita menyimak deskripsi tentang sabba ar-Rasul itu.
Ibn Taimiyah, dalam kitabnya, ash-Shârim al-Maslûl 'alâ Syâtimi ar-Rasûl, menerangkan tentang batasan orang-orang yang menghujat Nabi saw., yaitu: katat-kata (lafadz) yang bertujuan untuk menyalahkan, merendahkan martabatnya, melaknat, menjelek-jelekkan, menuduh Rasulullah saw. tidak adil, meremehkan, serta mengolok-olok Rasulullah saw. (Ibn Taimiyah, ash-Shârim al-Maslûl 'alâ Syâtimi ar-Rasûl, hlm. 528).
Para Sahabat dan generasi muslim terdahulu merasakan marah yang luar biasa ketika Nabi saw. dihina dan aqidah Islam dilecehkan. Berikut adalah dua diantara banyak riwayat yang menceritakan tentang hal itu.
1. Ibnu Abbas telah meriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi, bahwa ada seorang laki-laki buta yang istrinya senantiasa mencela dan menjelek-jelekkan Nabi saw. Lelaki itu berusaha melarang dan memperingatkan agar istrinya itu tidak melakukannya. Sampai pada suatu malam (seperti biasanya) istrinya itu mulai lagi mencela dan menjelek-jelekkan Nabi saw. (Merasa tidak tahan lagi), lelaki itu lalu mengambil kapak kemudian dia tebaskan ke perut istrinya dan ia hunjamkan dalam-dalam sampai istrinya itu mati. Keesokan harinya, turun pemberitahuan dari Allah swt kepada Rasulullah saw yang menjelaskan kejadian tersebut. Lantas , hari itu juga beliau saw. mengumpulkan kaum muslimin dan bersabda:
"Dengan menyebut asma Allah, aku minta orang yang melakukannya, yang sesungguhnya tindakan itu adalah hakku; mohon ia berdiri."
Kemudian (kulihat) lelaki buta itu berdiri dan berjalan dengan meraba-raba sampai ia turun di hadapan Rasulullah saw, kemudian ia duduk seraya berkata:
"Akulah suami yang melakukan hal tersebut ya Rasulullah saw. Kulakukan hal tersebut karena ia senantiasa mencela dan menjelek-jelekkan dirimu. Aku telah berusaha melarang dan selalu mengingatkannya, tetapi ia tetap melakukannya. Dari wanita itu, aku mendapatkan dua orang anak (yang cantik) seperti mutiara. Istriku itu sayang padaku. Tetapi kemarin ketika ia (kembali) mencela dan menjelek-jelekkan dirimu, lantas aku mengambil kapak, kemudian menebaskannya ke perut istriku dan menghujamkan kuat-kuat ke perut istriku dan menghujamkan kuat-kuat sampai ia mati.
Kemudian Rasululah saw. bersabda:
"Saksikanlah bahwa darahnya (wanita itu) halal" (HR. Abu Daud dan An Nasa'i)
2. Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra. yang berbunyi:
"Bahwa ada seorang wanita yahudi yang sering mencela dan menjelek-jelekkan Nabi saw. (oleh karena perbuatannya itu), maka perempuan itu telah dicekik sampai mati oleh seorang laki-laki. Ternyata Rasulullah saw. menghalalkan darahnya". (HR Abu Daud)

Mereka marah atas dasar keimanan dan kecintaan mereka terhadap Nabi saw. Hal yang wajar dan menjadi kewajiban bagi kita untuk melindungi kehormatan dan kemuliaan agama Allah serta orang yang membawa risalahnya ini. Justru sesuatu yang bisa dikatakan, konyol dan keterlaluan, apabila ada seorang muslim nyantai aja ketika Rasulnya dihina sedemikian rupa. Ya ea lah, orang kalau saudara atau temen kita aja dihina dan dilecehkan, kita bisa langsung ngamuk-ngamuk. Ini Rasul loh, orang yang dimuliakan dan Kekasih Allah SWT, dihinakan di depan mata kita?!

Solusinya?
Apa sanksi bagi para penghina Nabi saw? Mati.
Imam Asy Syaukani menukil pendapat para fuqaha antara lain pendapat Imam Malik yang mengatakan bahwa orang kafir dzimmi seperti Yahudi, Nashrani, dan sebagainya, yang menghujat Rasulullah saw. terhadap mereka hars dijatuhi hukuman mati, kecuali apabila mereka bertaubat dan masuk Islam. Sedangkan bagi seorang Muslim, ia harus dieksekusi tanpa diterima taubatnya. Imam Asy Syaukani mengatakan bahwa pendapat tersebut sama dengan pendapat Imam Syafi'i dan Imam Hambali. Beliau menyertakan dua hadits tentang hukuman bagi penghinaan Rasulullah saw. di atas dalam kitab "Nailul Authar" jilid VII, halaman 213-215.
Mungkin ada diantara para pembaca yang salah tangkap dan menyangka bahwa artikel ini menyarankan anda untuk membenci seluruh orang kafir. Kalau Anda menyangka seperti itu, lebih baik Anda seat in di kelas Bahasa Indonesia lalu belajar bagaimana menangkap isi artikel. Kami menyatakan bahwa penghinaan Nabi ini adalah kejahatan yang besar, baik itu dilakukan oleh orang kafir maupun kaum muslim itu sendiri (kaum muslim jadi-jadian, tentunya). Kalau kita mengaku beragama Islam, kita tidak boleh membiarkan kejahatan ini terus terjadi.
Ini bukanlah tentang fundamentalis, ekstremis, atau segala istilah buruk yang disematkan untuk membuat umat Islam phobia terhadap ajaran Islam itu sendiri. Seandainya para Sahabat dulu "phobia" terhadap ajaran yang dibawakan Rasul, tentu saja mereka ngga akan mau untuk ikut berjuang, mengorbankan harta, raga, dan nyawa karena perjuangan dalam Islam meniscayakan hal tersebut. Seandainya para Sahabat hanyalah orang yang duduk diam bersabar ketika Nabinya dihina, bagaimana mungkin mereka segera naik pitam dan geram ketika mendengarkan kabar fitnah dan penghinaan kepada Rasul, dan segera menghunus pedangnya untuk memburu nyawa mereka?
Seandainya orang-orang mengatakan bahwa pernyataan yang tertulis dalam artikel ini adalah artikel fanatik, lalu seperti apa Islam menurut mereka? Islam yang biasa-biasa saja kah? Islam seperti apa itu? Apakah dulu para Sahabat juga menggolongkan diri mereka pada "Islam yang biasa-biasa saja" dan "Islam yang luar biasa"? Ayat mana yang menyatakan bahwa ada pembagian konyol seperti ini? Kalau memang ada, tunjukkan pada kami dan mari berdiskusi bil hikmah!

Apa Penyebab Masalah ini Muncul?
Penghinaan dan pelecehan terhadap kemuliaan Islam ini akan terus berlanjut selama Khilafah belum tegak. Ini sedikit penjelasan bagi kamu:
Khalifah:  “huwalladzy yanuubu 'anil ummah fi as-sulthan wa tanfiidzi al-ahkam asy-syar'iyyah” (khalifah adalah orang yang mewakili umat dalam urusan kekuasaan dan penerapan hukum-hukum syara'). Demikian diterangkan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani –radhiyallahu 'anhu– dalam kitabnya Nizhamul Hukmi fi Al-Islam, pada bab Al-Khalifah.
Khilafah: kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariat Islam, dan mengemban dakwah ke segenap penjuru dunia. Menurut Imam al-Haramain, al-Juwaini, Imamah (atau Khilafah) adalah kepemimpinan yang sempurna dan mencakup umum, yang berkait dengan perkara khusus maupun umum yang ada hubungannya dengan agama maupun dunia, di dalamnya tercakup penjagaan atas negeri-negeri (kaum Muslim), memelihara urusan masyarakat, menegakkan dakwah melalui hujjah dan pedang (maksudnya jihad-pen), mengatasi kezhaliman dan kesewenang-wenangan sekaligus mengganjar pelakunya yang zhalim, serta memberikan hak-hak terhadap orang-orang yang terhalang hak-haknya.
Khilafah akan melindungi kemuliaan umat Islam dari segala bentuk penghinaan dan pelecehan terhadap Nabi saw. dan Islam secara umum. Selama tidak ada khilafah, kita tidak memiliki perlindungan dari serangan kafir barat, baik dalam bentuk penghinaan seperti ini, maupun dalam bentuk penjajahan fisik (seperti yang terjadi di Syria dan puluhan negeri muslim lain). Pada abad 19 (kekhilafahan Ustmani akhir) diceritakan bahwa di Perancis akan diadakan sebuah drama yang isinya menghina Nabi saw. dan agama Islam. Seketika saat itu, khilafah langsung memberikan peringatan dan ancaman agar dibatalkannya drama itu karena termasuk dalam bentuk penghinaan dan pelecehan umat Islam. Begitulah seharusnya negara (Islam) melindungin akidah umat. Wallahu 'alam.
(Ihsan Tampubolon, As’10, ketua An-Najm ( LDPS Astronomi ))

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*