INTELEKTUAL DALAM PERADABAN ISLAM

Abad ke-7 Masehi, daratan Eropa, tepatnya Inggris Anglo Saxon masih berupa negeri tandus, terisolir, kumuh, dan liar. Rumah-rumah dibangun dengan batu kasar tanpa dipahat dan diperkuat dengan tanah halus. Rumah-rumahnya dibangun di dataran rendah, berpintu sempit, tidak terkunci kokoh, dan dinding tidak berjendela.
Wabah penyakit menimpa binatang ternak yang menjadi sumber penghidupan satu-satunya. Tempat kediaman manusia dan hewan hampir
tidak jauh berbeda. Kepala suku tinggal bersama keluarga dengan satu ruangan dan api unggun di tengahnya. Pemilik rumah beranjak ke biliknya pada sore hari setelah makan. Meja dan perkakas kemudian diangkat. Semua penghuni rumah tidur di atas tanah atau bangku panjang. Senjata disiapkan di dekat mereka untuk menghadapi pencuri yang pada saat sangat berani dan merupakan hal yang lumrah.
Eropa pada saat itu adalah wilayah tertinggal dan sebagian besar adalah hutan belantara. Tata kota yang edemikian buruknya mengakibatkan masalah serius. Bau busuk akibat kotoran hewan dan manusia sudah menjadi biasa. Wabah penyakit akibat gaya hidup terbelakang menjadi masalah yang tidak ada habisnya. Infrastrukturnya pun tidak jauh beda tertinggalnya. Jalan-jalannya tidak diperkeras, tidak ada penerangan dan tidak terdapat saluran air. Kondisi yang semrawut ini terjadi sampai pada abad 11 M.

Bagaimana dengan peradaban Islam?

Jauh berbeda dengan Eropa waktu itu, Islam telah berkembang dengan kota-kota besar yang well-planned seperti Baghdad, Damaskus, Cordoba, Granada, dan Sevilla.
Cordoba misalnya. Kota ini berpenduduk 4 kali jumlah penduduk kota terbesar waktu itu, yakni 1 juta jiwa. Jalan-jalannya terdapat trotoar dan penuh dengan penerangan. Lorong-lorong dan dinding kota dihias indah dengan batu ubin. Kebersihan sangat terjaga dan taman-taman menghiasi tiap sudut kota.
Kemudian Baghdad, kota ini sebelumnya merupakan daerah kecil dan sempit. Khalifah Al-Mansur lalu mengubahnya dengan mendatangkan para insinyur, arsitek, dan pakar ilmu ukur menjadi kota yang memiliki perpustakaan terbesar di dunia, Iskandariyah. Menelan biaya 4,8 juta dirham dan 100.000 pekerja, Baghdad membangun dirinya menjadi kota sentral yang penuh dengan nuansa kemajuan teknologi. Sungai Tigris dan Eufrat dimanfaatkan untuk menghidupi rakyatnya dengan membuat 11 cabang anak sungai. Infrastruktur jembatan pun dibangun hingga 30.000 buah untuk Sungai Tigris.
Peradaban ini pun menjadi yang terdepan dalam melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar yang kontribusi nya luar biasa bagi ilmu pengetahuan. Sebut saja Al Khwarizmi, ahli matematika, astronomi, dan geografi, yang merupakan sang penemu aljabar. Ibnu Sina sang Bapak Kedokteran. Al Biruni dkk ahli astronomi yang mencetuskan sistem heliosentris. Jabir Ibn Hayyan sang ahli kimia yang menemukan proses distilasi dan kristalisasi. Ibnu Al haytsam, seorang fisakawan di bidang optika yang menemukan teori bahwa proses melihat adalah jatuhnya cahaya ke mata, bukan karena sorot mata seperti keyakinan pada zaman Aristoteles. Dan masih banyak ilmuwan-ilmuwan muslim lainnya dengan segudang penemuannya.

Wahai kaum intelektual

Peradaban yang gemilang tersebut adalah buah dari sistem yang cemerlang. Peradaban Islam yang sangat mengutamakan orang berilmu. Waktu itu para pelajar sangat dimuliakan dan diberi pelayanan yang terbaik dengan cuma-cuma. Mereka tidak dipusingkan dengan bea studi, apalagi mencari penghasilan tambahan. Di Madrasah al-Muntashiriah, Baghdad, misalnya, setiap siswanya diberi beasiswa sebesar satu dinar (4,25 gram emas) per bulan. Guru digaji sangat tinggi. Setiap orang yang menghasilkan kitab/publikasi diganjar dengan emas seberat hasil karangannya pada era Harun Al Rasyid.
Perpustakaan terdapat di seluruh kota Besar. Cordoba memiliki perpustakaan yang jumlahnya sekitar 20 dengan koleksi sekitar 400 ribu judul buku. Perpustakaan Darul Hikmah di Cairo memliki 2 juta koleksi buku. Perpustakaan Umum Tripoli di Syam, yang pernah dibakar oleh Pasukan Salib Eropa, mengoleksi lebih dari 3 juta judul buku, termasuk 50 ribu eksemplar al-Quran dan tafsirnya. Jumlah koleksi buku di perpustakaan-perpustakaan ini termasuk yang terbesar pada zaman itu. Bandingkan dengan Perpustakaan Gereja Canterbury yang berdiri empat abad setelahnya, yang dalam catatan Chatolique Encyclopedia, perpustakaan tersebut memiliki tidak lebih dari 2 ribu judul buku saja.
Iklim yang terbangun adalah iklim intelektual yang kesehariannya dipenuhi dengan menuntut ilmu dan kegiatan riset. Wajar saja bila ilmuwan-ilmuwan besar lahir pada peradaban ini.
Wahai kaum muslim
Melihat kondisi sekarang, agaknya memang wajar jika kita memandang masalah bangsa ini memang terlampau kompleks. Perbaikan pendidikan yang diusahakan menjadi agenda utama pun terhambat oleh buruknya pengurusan (ri'ayah) wakil rakyat apalagi dengan maraknya kasus korupsi yang menggergoti setiap sendi birokrasi negeri kita. Solusi untuk masalah korupsi yang dicoba untuk dicari penyelesaiannya pun tidak kunjung menemui titik terang. Pendidikan anti korupsi pun sudah tidak dapat diharapkan. Apalagi aparat-aparat penegak hukum pun sudah diragukan lagi kredibilitasnya. Mau darimana mulai memperbaiki bangsa ini? Mau dikemanakan rakyat kita? Pertanyaan itu selalu tinggal pertanyaan yang tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.
Perbaikan suatu bangsa harus dimulai dari perubahan sistem. Peradaban yang intelek tersebut tidak serta merta dapat berdiri hanya dengan pengutamaan ilmu dan pendidikan. Peradaban tersebut lahir dari ideologi Islam yang memuaskan akal dan cocok bagi manusia. Ideologi tersebut melahirkan peraturan-peraturan yang sempurna di bidang ekonomi, politik, pertahanan, sosial, hukum, dan sebagainya. Sehingga wajar jika semua pencapaian yang diraih oleh kaum muslim pada waktu itu adalah di segala bidang.
Sungguh kehinaan besar yang telah menimpa kita sekarang ini, bahwa kaum muslim adalah penghuni sebagian besar negara berkembang bahkan negara miskin. Miskin ilmuwan, miskin penemuan, dan dipenuhi kebodohan. Inilah akibat dari diterapkannya sistem Kapitalisme dan Demokrasi yang telah nyata kerusakannya sekarang. Kaum miskin susah mendapatkan pendidikan layak, generasi muda yang gaya hidupnya semakin hedonis, dan wakil rakyat kita yang tidak pernah beres.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*