Mesir Oh Mesir (Fact Part)

Fakta

Ketika berlangsung pemilu presiden tahun lalu pada putaran pertama 23-24 Mei 2012, Mursi belum bisa menang dan suara terdistribusi pada sejumlah calon. Setelah dilangsungkan putaran kedua pada 16-17 Juni 2012, diumumkanlah kemenangan Mursi dengan mendapat suara 51,73 %, sekitar 13 juta suara, berbanding dengan Ahmad Shafiq yang mendapat 48,27% atau sekitar 12 juta suara. Itu artinya ada hampir separo pemberi suara tidak menginginkan Mursi sebagai presiden dan mereka lebih mengutamakan salah seorang tokoh rezim sebelumnya yang memberontak kepada rezim.

Amerika mendukung dan bekerja untuk menjaga Mursi di atas kursinya. Diantara yang pertama direalisasikan untuk kepentingan Amerika dan keamanan Yahudi adalah apa yang dia lakukan untuk merealisasi gencatan senjata antara entitas Yahudi dan pemerintahan Hamas di Gaza. Gencatan senjata itu benar-benar terjadi sampai pada tingkat Hamas menempatkan beberapa unsurnya di pemisah antara Gaza dan entitas Yahudi untuk menghalangi pelanggaran atau penembakan ke arah Yahudi! Waktu itu Amerika memuji apa yang dilakukan Mursi dan implementasi politiknya berkaitan dengan masalah Gaza. Demikian juga Amerika mendukung Mursi pada insiden resolusi konstitusional berkaitan dengan perlindungannya dari peradilan. Amerika juga mendukung Mursi dalam memutuskan kepemimpinan di negeri. Ia mencopot beberapa komandan militer, terutama menteri pertahanan dan panglima militer, Husain Thanthawi dan kepala staf Sami Annan, di mana Mursi mengeluarkan resolusi konstitusional berkaitan dengan hal itu. Keputusan itu tidak mendapatkan penentangan yang besar. Kemudian Amerika juga mendukung Mursi dalam masalah konstitusi. Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika, Victoria Nuland, menyebutkan bahwa “Mrs Clinton dalam kunjungannya ke Kaero dan bertemu presiden Mursi, ia berbicara tentang pentingnya dikeluarkan konstitusi yang melindungi seluruh hak orang Mesir” (Ash-Sharq al-Awsath, 27/11/2012). Pengaruh politik Amerika jelas terhadap pemerintah Mursi dan oposisinya.

Pemerintah Mesir, di bawah Presiden Mursi, telah membatalkan UUD 11 Pebruari 2011 yang sebelumnya telah dihasilkan oleh Dewan Tertinggi Militer, melalui Dekrit Presiden. Dekrit ini pun menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Bagi yang kontra, Dekrit ini dianggap memberangus kebebasan rakyat yang mereka perjuangkan melalui Revolusi 25 Januari 2011. Meski isinya jelas menjamin kebebasan tersebut. Sedangkan bagi yang pro, Dekrit ini diklaim sebagai jalan untuk mendirikan Negara Islam yang akan menerapkan Islam secara kaffah dalam kehidupan.

Letnan jenderal Abdul Fattah al-Sisi menteri pertahanan dan produksi kemiliteran pada Rabu sore tanggal 3 Juli 2013 mengumumkan apa yang disebutnya “peta masa depan” untuk Mesir.  Peta itu memuat penghentian penerapan konstitusi secara temporer, pencopotan presiden yang terpilih secara demokratis, pelaksanaan pemilu presiden segera dengan ketentuan ketua Mahkamah Konstitusi memegang pengaturan urusan negeri selama tahapan transisi dan sampai pemilu presiden yang baru.  Ketua mahkamah Konstitusi Tinggi memiliki kekuasaan mengeluarkan pengumuman konstitusional selama tahapan transisi.  Ia mengisyaratkan kepada pembentukan pemerintahan “efisiensi nasional” dan pembentukan komite yang menghimpun semua usulan untuk amandemen konstitusi dan mengajukan penetapan rancangan undang-undang pemilu parlemen kepada Mahkamah Konstitusi Tinggi.

Militer Mesir yang masih memberikan loyalitasnya kepada Amerika semakin brutal. Lebih dari 100 orang dilaporkan terbunuh saat pendukung Presiden Mesir yang dikudeta menggelar aksi protes di Kairo.Seperti yang dilaporkan BBC online (27/07),  pembunuhan terjadi di sekitar mesjid Rabaa al-Adawiya dan ada banyak cipratan darah di jalanan.Seorang dokter di rumah sakit lapangan dekat dengan lokasi protes menambahkan bahwa lebih dari 1.000 orang terluka.Sebelumnya, jenderal as Sisi memprovokasi rakyat Mesir untuk turun ke jalan-jalan menantang pendukung Mursi. Al Sisi memanfaatkan ini sebagai alasan untuk militer melakukan intervensi politik. Tindakan ini dikecam sebagai upaya adu domba rakyat Mesir.Wartawan BBC melaporkan tembakan senjata otomatis masih bisa terdengar dan kawasan tersebut diselimuti oleh asap yang berasal dari tembakan gas air mata.Juru bicara Ikhwanul Muslimin Gehad el-Haddad kepada kantor berita Reuters mengatakan: “Mereka menembak bukan untuk melukai, mereka menembak untuk membunuh.”

Siapa pemangku kepentingan dibalik krisis Mesir

Tidak bisa dipungkiri kalau dibalik krisis di Mesir, banyak pihak yang berkepentingan baik itu dari pihak pendukung Presiden Al-Hafizh Dr. Muhammad Mursi ataupun dari penentangnya. Keduanya sama-sama bersikukuh dengan pendapatnya masing-masing hingga akhirnya terjadi konflik vertikal yang merenggut 51 nyawa saudara kita tanpa haq. Untuk saat ini, posisi pemerintahan baru dibawah Presiden interim Adly Mansourmemiliki posisi yang lebih kuat karena mendapat dukungan dari Militer mesir yang memiliki kekuasaan sesungguhnya. Hal ini merupakan nilai lebih, karena sebelumnya Militer mesir tidak mendukung Pemerintahan Al-Hafizh Dr. Muhammad Mursi secara penuh.

Seperti yang kita ketahui, selama ini militer Mesir mendapatkan bantuan dana segar sebesar $ 1,5 Milyar per tahun dari Pemerintah Amerika. Bantuan ini merupakan kedua terbesar setelah bantuan pemerintah Amerika terhadap militer Israel. Bantuan ini terus mengalir ke militer Mesir sejak tahun 1979, ketika Mesir masih dipimpin oleh Anwar Sadat, presiden Mesir yang mendeklarasikan perjanjian damai dengan Zionis Israel. Dalam sejarahnya, militer Mesir dijadikan kepanjangan tangan Amerika Serikat untuk menjaga kepentingan Negara adidaya tersebut di Mesir. Amerika sangat memahami bahwa selama ini, presiden Mesir yang bisa bertahan lama dalam memerintah adalah presiden yang didukung oleh militer dan tentunya syarat yang harus dipenuhi adalah tunduk pada setiap kebijakan-kebijakan Amerika. Oleh karena itu, setiap presiden yang bertentangan dengan Amerika akan disingkirkan oleh kudeta militer.

Jika kita melihat lebih jauh, kita akan melihat benang merah kepentingan Amerika di Negara-negara Timur Tengah, termasuk di Mesir. Diantaranya:

  1. Menjaga suplai minyak murah untuk Amerika
  2. Terjaminnya eksistensi Negara yahudi
  3. Membendung gerakan-gerakan Islam politik yang ingin mendirikan Daulah Khilafah Islamiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*