Mesir Oh Mesir (Solution Part)

Dakwah Rosul vs Demokrasi

Jika kita berkaca pada perjuangan Rosulullah SAW dalam menegakan Daulah Islam, maka kita akan menemukan 3 tahapan perjuangan dakwah yang yang ditempuh oleh Rosulullah secara konsisten. Tahapan tersebut direpresentasikan dalam 3 poin penting, diantaranya:

  1. Tasqif, atau proses pembinaan terhadap kader-kader yang siap memperjuangkan Islam. Proses ini dilaksanakan secara berkelanjutan meliputi pola piker dan pola sikap Islam.
  2. Tafa’ul ma’al ummah, atau proses interaksi dengan masyarakat. Proses ini ditunjukan untuk membangun kesadaran ummat akan pentingnya penerapan syariat islam.
  3. Thalabul Nushrah, atau proses penyerahan kekuasaaan untuk menerapkan syariat islam. Proses ini dilakukan antara pihak pemegang kekuasaan ( ahlul quwwah ) dan pemerintahan Islam, sebagai jaminan terlaksananya penerapan syariat Islam secara kaffah.

Ketiga tahapan ini merupakan patokan yang harus dilalui jika kita memang menjadikan Rosul sebagai suri tauladan kita dalam berdakwah. Walaupun jalan yang bisa ditempuh bisa berbeda-beda sesuai dengan metode yang dipegang. Salah satu jalan lain itu adalah melewati jalur demokrasi, seperti yang telah dilakukan di Mesir.

Dalam system demokrasi yang berjalan di Mesir, ada point yang sangat penting untuk diperhatikan yaitu menang dengan suara terbanyak tidak berarti pihak yang menang bisa melakukan kebijakan apapun termasuk untuk menerapkan syariah Islam. Ada dua hal penting tyang perlu diperhatikan, diantaranya:

  1. Kesadaran seluruh masyarakat dalam penerapan syariah islam, sebagai legitimasi untuk penerapan kekuasaan
  2. Dukungan ahlul quwwah atau pemegang kekuasaan yang riil sebagai jaminan keamanan bagi pelaksanaan syariat Islam

Hal ini membuktikan bahwa tidak cukup hanya orang Islam saja yang sampai di Pemerintahan, tetapi system islamnya yang harus ada di pemerintahan, dengan kata lain Islam sebagai aturan yang dijalankan oleh Pemerintahan. Selain itu, krisis Mesir juga membuktikan kegagalan konsep Islam moderat yang selama ini dijalankan oleh pemerintahan Al-Hafizh Dr. Muhammmad Mursi. Mereka yang mengambil jalan moderat ini berkompromi dengan nilai-nilai sekuler dan bekerjasama dengan Negara imperialis Barat seperti Amerika.

Krisis Mesir meninggalkan ironi yang sangat mendalam. Di satu sisi presiden Al-Hafizh Dr. Muhammmad Mursi diangkat melalui system Demokrasi, tetapi beliau diturunkan juga sebagai presiden oleh para pengusung demokrasi.

Kasus di Mesir, bukan yang pertama kalinya pemenang pemilu demokratis yang dilucuti kekuasaannya oleh militer. Contoh lain terjadi pada partai FIS ( Front Islamic du Salut ) di Aljazair yang langsung dikudeta oleh pihak militer setelah menang Pemilu pada tahun 1991 dan partai HAMAS di Palestina yang kemenangannya diboikot oleh Negara-negara pendukung demokrasi yang terjadi mulai tahun 2006.

Pada fase periode Mekah, Rosulullah SAW pernah mendapatkan tawaran kekayaan, kehormatan dan kekuasaan dari kaum musyrikin Qurays untuk menghentikan dakwah dan berkompromi dengan mereka. Tetapi, Rosulullah SAW dengan tegas menolak tawaran tersebut karena harus mengkompromikan dakwah Islam dengan kepentingan-kepentingan kaum musyrikin.

Dalam demokrasi, semua keputusan bisa dikompromikan termasuk dalam hal-hal yang hukumnya sudah jelas dalam hukum islam. Padahal Allah telah berfirman:

“ apakah hukum jahiliayah yang mereka kehendaki, dan hokum siapakah yang lebih baik dari hokum Allah bagi orang-orang yang yakin?” ( T.Q.S Al-Maidah: 50 )

Dalam sebuah hadist Imam Tirmidzi dari jalan Adi bin Hatim yang berkata: Aku pernah datang kepada Nabi SAW sementara di leherku bergantung salib yang terbuat dari emas. Nabi SAW kemudian bersabda “ wahai Adi campakan berhala itu dari tubuhmu!” lalu aku mendengar beliau membaca Al-Quran “ mereka menjadikan para pembesar dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah” ( T.Q.S At-Taubah:31 ) . sesungguhnya Adi bin Hatim berkata pada Rosulullah SAW bahwa mereka tidak menyembahnya. Nabi SAW menjawab “ benar, namun pembesaar dan rahib itu telah menghalalkan untuk umatnya perihal yang haram dan mengharamkan untuk mereka perihal yang halal kemudian mereka mengikutinya. Itulah ibadah mereka kepadanya”( H.R Tirmidzi)

Semoga krisis Mesir ini bisa jadi peringatan bagi kita, bahwa penegakan Syariat Islam melalui demokrasi akan menemui kegagalan. Contoh lain yang  paling dekat dengan kita adalah partai Masyumi yang dapat meraih suara peringkat kedua sebanyak 20,92 % pada Pemilu Indonesia tahun 1955 dan sangat berpotensi untuk menguasai parlemen. Partai lain di peringkat pertama adalah PNI dengan raihan 22,32 %. Di DPR kursi untuk Masyumi sebanyak 57 kursi, jumlah yang sama didapat oleh PNI. Di konstituante, Masyumi mendapat 112 kursi sedangkan PNI 119 kursi. Namun, pada akhir tahun 1960, Presiden Soekarno menerbitkan KEPRES no 200/1960 tentang pembubaran Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia karena beberapa tokoh terasnya dicurigai dalam gerakan PRRI ( Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia ), yaitu M. Natsir, Buya Hamka dan Syafrudin Prawiranegara ditangkapi tanpa alas an yang jelas.

What should we do ?

Sekarang kita akan berbicara mengenai jalan terbaik yang harus ditempuh. Berkaca pada fakta dan sejarah yang telah dilakukan oleh Rosul kita yang mulia dan para sahabat beliau, bisa kita tarik kesimpulan bahwa perjuangan penegakan syariat Islam harus dilakukan dengan metode yang telah ditetapkan oleh Rosulullah SAW. Betapapun sulitnya jalan yang akan ditempuh, tidak menjadi masalah bagi kita sebab yang menjadi pertanggungjawaban di akhirat kelak adalah amalan kita dalam menempuh jalan dakwah yang sesuai sunnah bukan hasil yang diperoleh karena hasil merupakan hak prerogative Allah SWT. Yang harus kita lakukan adalah bersabar dalam menempuh metode tersebut hingga akhirnya umat Islam berhak menerima kekuasaan dengan kedatangan pertolongan atas kehendaknya.

Untuk perbaikan yang nyata bagi Mesir dan umat Islam secara keseluruhan, tidak ada pilihan lain selain menghilangkan penyebab-penyebab kegagalan revolusi. Untuk masa depan Mesir ada beberapa solusi yang harus dilakukan, diantaranya:

  1. Tidak cukup perubahan figure atau rezim, tetapi harus terjadi perubahan system secara menyeluruh. System sekuler yang selama ini jadi pangkal persoalan harus diganti dengan system Islam.
  2. Militer Mesir yang mempunyai kekuatan riil dengan posisi yang strategis harus mengubah loyalitas mereka dari pengabdian pada Amerika menjadi semata-mata mengabdi kepada Allah SWT untuk melayani kepentingan ummat Islam. Dengan menumbuhkan kesadadran mereka akan pentingnya pengabdian terhadap Islam karena sejatinya Amerika adalah kafir Harbi yang harus diperangi.
  3. Menghentikan hubungan secara total dengan Amerika dan sekutu-sekutunya, termasuk organisasi-organisasi politik dunia seperti PBB, IMF, Bang Dunia, dan lain-lain. Sikap menerima bantuan dan bekerjasama dengan mereka telah mengokohkan intervensi dan penjajahan di Mesir dan dunia Islam yang lain.

Semua solusi tadi tidak akan bisa terwujud jika belum memenuhi parameter yang harus dicapai terlebih dahulu, yaitu kesadaran umat Islam secara keseluruhan terhadap penegakan syariat Islam dan adanya dukungan ahlul quwwah atau pemegang kekuasaan yang nyata sebagai jaminan keamanan bagi syariat Islam sebagaimana penyerahan kekuasaan dari suku Aus dan Khazraz di Madinah.

Waalahua’lam bishowab….

Semoga Allah tetap memberi petunjuk  yang benar dalam menapaki jalan dakwah ini….

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*