Pemuda dalam Pergerakan Dakwah Islam

oleh Muhammad Fikri Kawakibi (Aeronautika ITB 2012)

RINGKASAN

Pemuda merupakan kalangan yang memiliki sifat energik, kritis, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Dengan potensinya yang besar, pemuda dapat membuat perbaikan ataupun kerusakan. Sebagai pemuda yang terpelajar, mahasiswa tidak cukup jika hanya melakukan aktivitas akademik, tetapi juga harus melakukan aktivitas politik dan mampu bersatu dengan semua lapisan masyarakat supaya menghasilkan manfaat yang lebih besar. Aktivitas tersebut terbukti telah berhasil membebaskan Indonesia dari penjajahan fisik di zaman Bung Karno. Pemuda hari ini pun menghadapi penjajahan namun dalam bentuk yang lain, yaitu penjajahan ekonomi oleh para kapitalis, seperti privatisasi sumber daya alam. Untuk menjaga keberlangsungannya, sistem kapitalisme mengarahkan pemuda untuk terbuai dengan dunia hiburan, dan mahasiswa sebagai penjaga nilai dimasukkan ke lingkungan yang nyaman sehingga membutakan mereka dari fakta yang ada pada masyarakat. Karena itu, mahasiswa harus memiliki landasan ideologi yang tajam dalam pergerakannya yang dihasilkan dari proses berpikir yang rasional. Pemikiran yang tepat untuk menggeser sistem kapitalisme adalah Islam, sebuah ideologi yang memiliki solusi yang lengkap bagi setiap masalah. Islam memberikan landasan pemikiran yang tidak sesat, baik, dan diridai, dan metode pergerakan yang lurus. Karena itu, potensi besar yang dimiliki pemuda harus diarahkan kepada pergerakan sesuai dengan metode Islam untuk membangun peradaban yang menerapkan syariat Islam. Pergerakan yang paling utama dalam Islam adalah dakwah, yaitu gerakan yang bersatu dengan seluruh elemen masyarakat untuk menyampaikan pandangan hidup atau akidah Islam.

Sepuluh Pemuda dan Pergerakannya

 

Pemuda merupakan kalangan yang memiliki sifat energik, kritis, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mahasiswa sebagai bagian dari pemuda yang paling berpengaruh dan memiliki tanggung jawab yang paling besar dalam masyarakat tentu harus bisa memanfaatkan potensi-potensi tersebut dengan maksimal. Namun, tak jarang potensi tersebut justru mati karena lingkungan pergaulan mereka. Di saat pemuda yang seharusnya memiliki potensi energik, banyak mahasiswa yang justru melakukan aktivitas yang minim manfaat.

Bung Karno hanya membutuhkan sepuluh pemuda untuk mengguncang dunia. “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Kalimat Bung Karno tersebut merupakan gambaran bagaimana kedahsyatan pemuda sebagai agen perubahan. Membayangkan sedikitnya sepuluh pemuda dan betapa luasnya dunia tentu akan membuat kita bertanya-tanya mengapa Bung Karno bisa mengatakan kalimat itu dan mengapa hanya sepuluh pemuda saja yang dibutuhkan.

Salah satu momen yang membuat Bung Karno mampu mengatakan kalimat tersebut adalah masa proklamasi, yaitu ketika pemudalah yang mampu memaksa Soekarno untuk memproklamasikan kemerdekaan dengan melakukan penculikan ke Rengasdengklok. Karena itu, ketika hari ini banyak pihak asing yang ingin menguasai Indonesia, kita dapat mengkaji peningkatan mutu pemuda dengan melihat apakah pemuda dapat membebaskan Indonesia dari cengkraman asing. Pada zaman Bung Karno, cengkraman asing itu berbentuk penjajahan fisik, sedangkan hari ini cengkraman asing itu berbentuk penjajahan ekonomi oleh para kapitalis, seperti privatisasi sumber daya alam.

Lingkungan pun berpengaruh pada perkembangan mutu pemuda. Pemuda akan cenderung aktif bergerak dalam keadaan ditekan. Sebagai contoh, aktifnya mahasiswa pada masa orde lama dan orde baru, hingga orde baru tumbang pada 1998. Setelah reformasi, mahasiswa mulai diberi kebebasan sehingga pergerakan mahasiswa pun perlahan-lahan menurun.

Diantara pergerakan pemuda yang berhasil adalah pemuda Angkatan ‘66 dan ’98, yaitu berhasil menumbangkan orde lama dan orde baru. Angkatan-angkatan lain yang patut diperhatikan diantaranya adalah ‘78, ‘80, ‘90-an. Namun, mereka gagal mencapai tujuannya. Jika kita membandingkan antara angkatan pemuda yang berhasil dan yang gagal mencapai tujuannya, kita dapat mengetahui bahwa sebuah pergerakan akan berhasil apabila dapat merekrut lapisan masyarakat yang lain untuk dikoordinasikan oleh pemuda. Sebelum tahun ’74 sendiri, budaya pergerakan belum identik dengan mahasiswa.

Jadi, ketinggian posisi mahasiswa dalam masyarakat ditentukan dari seberapa bersatunya mereka dengan lapisan-lapisan masyarakat yang lain. Pergeseran pemuda dari karakter pergerakan zaman dahulu ke karakter hiburan zaman sekarang ini, pun jadi mengkhawatirkan. Hilangnya karakter pergerakan akan membuat gerakan-gerakan mahasiswa mengalami kegagalan bahkan menghilangkan sama sekali gerakan mahasiswa. Karena itu, mahasiswa tidak cukup jika hanya melakukan aktivitas akademik, tetapi juga harus melakukan aktivitas politik supaya menghasilkan manfaat yang lebih besar.

 

Potensi Pemuda, dan Pergerakan

Pemuda memiliki potensi negatif sebagai perusak dan pembuat bencana. Bila pemuda belum memiliki pemikiran yang jelas, mereka akan membuat kerusakan dikarenakan pemahamannya yang kurang dan emosinya yang labil. Jadi, perlu diperhatikan ke mana pemuda yang memiliki energi lebih ini hendak diarahkan.

Pemuda juga memiliki potensi fisik dan pemikiran yang kuat. Pemuda cenderung lebih kuat dan lebih jarang sakit. Sedangkan pemikirannya yang kuat didapat dari apa yang dibaca, apa yang didengar, dan bersama siapa mereka hidup di lingkungannya.

Pemikiran menjadi komponen utama karena akan menentukan karakter pemuda seperti apa yang terbentuk, yaitu pemuda yang mampu membuat perubahan, atau tidak. Banyak pemikiran yang menyebar bebas di kalangan pemuda, dari mulai kapitalisme sekuler, agamis, hingga atheis. Pemuda dapat memilih pemikiran yang mana saja untuk menjadi dasar dalam bergerak.

Karena memiliki potensi fisik yang kuat, masyarakat mengidentikkan gerakan pemuda dengan kekerasan. Pemuda diibaratkan sebagai puncak tengah hari yang sedang panas-panasnya. Inilah yang membedakan pemuda dengan orangtua dan anak-anak hingga Bung Karno mengeluarkan pernyataannya tentang sepuluh orang pemuda.

Terakhir, pemuda memilki potensi besar dari karakternya, yaitu energik, ambisius, kritis, dan semangat. Karakter kritis pemuda ini berfungsi untuk mengubah sistem yang tidak baik, seperti sistem hari ini yang menggiring pemuda untuk terfokus secara berlebihan pada dunia hiburan. Dengan semua potensi yang dimiliki, pemuda bisa mendobrak sistem yang membatasinya, tetapi bisa juga memilih untuk tinggal diam terhadap sistem yang ada. Pemuda bisa memperbaiki sistem yang buruk, dan bisa juga merusak sistem yang baik.

Pemuda di Bawah Kekangan Sistem Kapitalisme

Sepuluh orang pemuda di zaman Bung Karno telah berhasil membebaskan Indonesia dari cengkraman asing, sedangkan hari ini cengkraman asing itu berupa penjajahan ekonomi oleh para kapitalis, seperti privatisasi sumber daya alam. Karena itu, para kapitalis tentu akan berusaha mencegah pergerakan pemuda agar penjajahannya dapat terus berlangsung.

Sistem kapitalisme mengikat pemuda dengan cara menciptakan zona nyaman bagi mereka. Sebagaimana yang kita ketahui, zona nyaman dapat menghentikan pergerakan mahasiswa, tidak seperti mahasiswa yang ditekan. Di bawah sistem ini, hilanglah esensi pemuda yang sebenarnya, terutama esensi mahasiswa sebagai penjaga nilai.

Waktu, energi, dan uang memengaruhi kehidupan manusia. Antara pemuda, dewasa, dan lansia tentu memiliki kebutuhan yang berbeda. Karena itu, sistem kapitalisme berusaha membuai masyarakat dengan hidup enak. Saat ini Indonesia menggunakan sistem kapitalisme termasuk dalam sistem pendidikannya dengan cara mengakomodasi mahasiswa untuk masuk ke sistem yang ada—membuai mereka-- sehingga tidak ada kesadaran untuk mengubah sistem tersebut menjadi sistem yang lebih baik.

Lingkungan yang diciptakan ini mempersempit pemikiran dan menumbuhkan sifat individualis pada mahasiswa. Tidak ada pergerakan mahasiswa yang dilakukan karena mahasiswa terbuai dengan kenyamanan yang ada dan tidak menyadari sistem buruk yang sedang mengekangnya. Padahal, di luar lingkungannya, banyak rakyat yang diperlakukan tidak adil oleh sistem ini sedangkan mahaswisa individualis ini tidak bersatu dengan masyarakat untuk mengindera fakta tersebut.

Jadi, sistem kapitalisme telah melakukan berbagai langkah untuk menjaga keberlangsungannya, yaitu dengan meredam kaum yang dapat menjadi ancamannya, yaitu pemuda. Pemuda diarahkan untuk terbuai dengan dunia hiburan, dan mahasiswa sebagai penjaga nilai dimasukkan ke lingkungan yang nyaman sehingga membutakan mereka dari fakta yang ada pada masyarakat. Padahal, berbagai konsep untuk mengondisikan mahasiswa sebagai penjaga nilai sudah muncul dan silih berganti, seperti adanya konsep popope.

Pemikiran yang Menggerakkan

Berpikir merupakan salah satu sifat dasar manusia. Besar kecilnya pemikiran tergantung pada kemauan seseorang untuk memanfaatkan potensi berpikirnya. Dari proses berpikir ini akan didapatkan sebuah kesimpulan yang disebut dengan pemikiran. Kesimpulan juga bisa berupa pengetahuan. Proses berpikir yang kesimpulannya berupa pengetahuan disebut penalaran.

Informasi memiliki peran paling penting dalam proses berpikir untuk menghasilkan pemikiran. Dalam setiap pemecahan masalah, seseorang akan memroses bermacam-macam informasi yang telah ia simpan sebelumnya. Dari informasi tersebut, seseorang akan meninjau masalah untuk mengidentifikasi sebuah sistem. Gabungan dari informasi-informasi yang ia miliki akan memberikan parameter nilai yang komprehensif. Hal inilah yang membuat mahasiswa mengidentifikasi kapitalisme sebagai sebuah sistem yang sempurna setelah dibuai dengan kehidupan yang enak, dibangun karakter individualis, dan dipisahkan dengan masyarakat. Sedangkan jika mahasiswa bersatu dengan masyarakat dan dapat meninjau masalah-masalah yang ada, mereka akan memiliki identifikasi yang lebih kritis terhadap sistem.

Pergerakan mahasiswa, baik dalam bentuk demonstrasi, pengembangan masyarakat, penelitian, maupun bantuan advokasi akan selalu berkaitan dengan pemikiran. Sebuah pergerakan pasti berlandaskan suatu ajaran dan memiliki pemikiran utama. Karena itu, bagi kaum terpelajar, implementasi landasan ideologi haruslah dipertajam ketika hendak membuat suatu pergerakan ataupun organisasi.

Jadi, pemikiran merupakan sebuah cetak biru yang tidak bisa dipisahkan dari pergerakan. Selanjutnya, cetak biru ini akan dilengkapi dengan kelengkapan fisik yaitu potensi-potensi besar yang dimiliki pemuda, barulah tercipta sebuah pergerakan.

Proses Berpikir dalam Pergerakan Pemuda

Sebuah pergerakan berawal dari sebuah pemahaman, yaitu informasi sebelumnya mengenai sebuah stimulus atau fakta yang terindera. Proses pemahaman ini akan membuahkan makna yaitu persepsi. Persepsi inilah yang menjadi aspek yang mengarahkan sebuah pergerakan.

Dalam pergerakan, pemuda harus mampu mengaitkan persepsi dengan pergerakan, agar dapat mengidentifikasi jenis masalah yang harus dipecahkan, atau ‘siapa musuh yang harus dihadapi’. Sebuah pergerakan yang tidak diarahkan dengan baik oleh persepsi hanya akan menjadi sebuah anarkisme dan pengrusakan.

Maka ketika sistem kapitalisme telah mengalihkan karakter pemuda, sebagai insan pergerakan, kepada dunia hiburan dan melenakan sang penjaga nilai agar tidak lagi melindungi masyarakat dari kezaliman sistem kapitalisme, pemuda harus diarahkan untuk membangun peradaban yang baru, peradaban dengan sistem yang benar, yaitu sistem yang berlandaskan syariat Islam. Islam merupakan pemikiran mendasar yang tepat dan benar serta memiliki metode atau cara yang tepat dan benar pula. Cara tersebut digunakan dalam memahami dan mengimplementasikan pemikiran mendasarnya dalam pergerakan sehingga sebuah pergerakan tidak hanya bermodalkan semangat saja. Ideologi Islam ini memiliki solusi yang lengkap bagi setiap masalah, tidak hanya permasalahan sosiologis.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi penjelasan tentang keistimewaan pemikiran Islam dalam firman-Nya:

“Kawanmu (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak sesat (dalam ilmu) dan tidak pula menyimpang (dalam amal).” (QS. An-Najm 53:2).

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyucikan petunjuk yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari dua kerusakan, yaitu kesesatan ilmu, dan penyimpangan amal. Petunjuk inilah yang dibutuhkan oleh para pemuda, yaitu pemikiran yang benar  dan implementasi yang tepat dalam pergerakannya. Karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan para pemuda adalah mempelajari Islam dengan teliti dan mendalam, kemudian diikuti dengan ilmu akademik sesuai dengan bidang studinya masing-masing, sebagaimana Islam yang juga dipelajari dengan metode rasional, yaitu dengan dapat diobservasinya dalil aqli dan dalil naqli. Dengan mempelajari pemikiran Islam dan mengimplementasikannya dalam pergerakan, artinya pemuda telah menggunakan akal dan seluruh anggota tubuh sesuai dengan fungsi masing-masing pada perbuatan yang berguna bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Ajaran Islam merupakan pandangan hidup atau akidah yang menyeluruh. Karena itu, langkah selanjutnya adalah tidak hanya membenarkan pemikiran-pemikiran di dalamnya, tetapi juga meyakini bahwa tidak ada yang patut disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keyakinan inilah yang membedakan antara seorang muslim dan seorang kafir.

Terakhir, dalam belajar, ilmu yang dipelajari haruslah diniatkan untuk diamalkan, bukan hanya sekadar menambah wawasan dan kepintaran, apalagi jika diniatkan untuk membodoh-bodohi orang lain. Karena itu, mahasiswa sebagai kaum terpelajar memiliki tanggung jawab yang besar, termasuk untuk mengembangkan masyarakat. Dengan cara ini, mahasiswa sebagai penjaga nilai dapat menjadi sistem pertahanan nilai yang berdaya topang tinggi. Proses inilah yang membawa kebiasaan yang berkembang maju bagi pemuda. Selanjutnya, proses berpikir harus diamalkan, tidak hanya menjadi sekadar ‘praktikum’.

 

Peran Strategis HATI ITB

Sebagai unit kajian Islam ideologis, HATI ITB yang berkaderkan para pemuda memiliki beberapa peran strategis, diantaranya:

  1. Tanzhim, atau lembaga yang mengumpulkan.

Tanzhim adalah ikatan organisasi yang kokoh yang dibangun di atas rasa percaya atau tsiqah. Bagian terpenting dari sebuah organisasi adalah pemimpin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa 4:65).

  1. Tarbawi, atau pengkaderan.

Secara bahasa, Tarbawi berasal dari bahasa Arab Rabba-Yurabbi-Tarbiyyatan yang bermakna pendidikan, pengasuhan, dan pemeliharaan (A.W. Munawwir, 1997: 470). Tarbawi dikatakan berhasil apabila kader yang baru lebih baik daripada kader sebelumnya.

  1. Berdasarkan pemikiran Islam.

Pemahaman kader HATI sebagai pemuda adalah berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, serta argumentasi HATI didapatkan dari observasi dalil aqli dan dalil naqli.

  1. Berpolitik dan berpikir keummatan.

Gamais tidak menggunakan metode atau cara berpolitik ala barat, melainkan menggunakan metode rujukan pemikiran Islam sehingga kajian HATI dapat membuka cakrawala berpikir umat tentang kehidupan beragama sekaligus politik dan pergerakan.

Profil Seorang Da’i

Dakwah merupakan pergerakan pemuda yang paling utama dalam mengubah sistem yang buruk menjadi baik. Seperti yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, sebuah pergerakan baru akan berhasil jika mampu bersatu dengan masyarakat. Seseorang yang berdakwah kepada masyarakat disebut da’i, dan kriteria seorang da’i diantaranya adalah:

  1. Terus terang dan menyampaikan dakwah apa adanya.
  2. Berani.

Seorang da’i memiliki keyakinan terhadap akidah Islam. Dengan meyakini luasnya rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia maupun di akhirat, seorang da’i berani melawan sistem dan menanggung resiko dalam pergerakan dakwahnya. "Kalaulah saya bertindak lemah, lalu bagaimana generasi setelah saya?" Ketika seorang da’i berdakwah dengan organisasi dan harus mengkader juniornya, tentulah ia akan memiliki pemikiran tersebut. Seorang yang lebih tua harus mampu melihat tokoh yang besar untuk diteladani, karena seorang yang lebih muda akan melihat seniornya terlebih dahulu.

  1. Kekuatan, penopang dakwah.

Seorang da’i harus memiliki kekuatan lebih untuk memberikan manfaat yang besar bagi dakwah Islam yang Haq (benar). Karena itu, potensi pemuda yang besar harus diarahkan untuk menopang gerakan dakwah.

  1. Pemikiran.

Seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, pergerakan sangatlah terikat dengan pemikiran. Maka seorang da’i bukanlah seseorang yang pandai bicara saja, tetapi juga seseorang yang memiliki pemikiran yang kuat sebagai gudang solusi bagi masyarakat.

 

            Jadi, pemikiran sebagai potensi terbesar yang dimiliki pemuda harus diarahkan untuk membangun peradaban yang sesuai dengan syariat Islam dengan menyampaikan dakwah kepada masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*