tambun

Tamasya Bunaken 20 Maret 2015: Dari Seni hingga terbawa Mimpi

tambun

“Jangan jadikan batu itu pedoman hidup kita, musyrik.”

Suara raungan mesin Metromini, klakson mobil, dan umpatan geram pengendara motor akibat angkutan umum yang ngetem terdengar bersahut-sahutan di sepanjang Jalan Jatinegara pada siang hari yang terik itu. Orang-orang berlalu lalang di bagian tepi jalan. Beberapa menghentikan langkahnya untuk melihat batu-batu akik dalam berbagai warna dan ukuran, tak terganggu dengan suara bising kendaraan.

Sementara itu, di ujung jalan, nampak seorang pedagang yang mengenakan kalung batu hijau tosca besar sedang asyik menggosok batu cincinnya. Pedagang eksentrik berperawakan pendek, gemuk, dan berkalung batu itu bernama Edi Susanto, biasa dipanggil Bang Ed. Lapaknya terletak di pinggir jalan Jatinegara yang berseberangan dengan gedung Jakarta Gem’s Centre.

Bang Ed memiliki koleksi batu akik yang beragam. Batu-batu yang ia jual ada yang berasal dari Aceh, Padang, Bengkulu, Garut, Banten, Wonosobo, Nusa Kambangan, Ternate, hingga Papua. Batu-batu tersebut dipasok oleh warga desa yang berprofesi sebagai penambang batu. Mereka menjual batu bongkahan besar hasil tambangan kepada warga desa lain untuk kemudian dikirim ke Jakarta dengan sebuah truk besar. Setibanya di Jakarta, batu-batu tersebut dijual kembali kepada pengecer batu seperti dirinya yang kemudian akan dipoles menjadi cincin, gelang, ataupun kalung.

Berbicara tentang harga, batu ternyata tidak memiliki harga yang pasti. Berbeda dengan emas ataupun berlian yang harganya ditentukan berdasarkan karat dan beratnya, tidak ada suatu patokan pasti untuk menentukan harga sebuah batu akik.

“Kalau batu tuh, ya berdasarkan feeling kita aja harganya. Biasanya sih, saya kasih harga satu batu Rp 50.000,00-an lah paling murah,” ujarnya.

Menurut pengamatannya, batu yang sedang menjadi tren belakangan ini yaitu batu Bacan. Batu tersebut terbilang aneh karena bisa mengalami perubahan warna. Awal mula, batu tersebut berwarna hitam, tapi lambat laun ia akan berubah warna menjadi biru dan kemudian berganti menjadi tosca. Uniknya, tak ada yang bisa memastikan kapan batu tersebut berubah warna, inilah mengapa orang-orang banyak tertarik dengan batu bacan.

“Ya itulah uniknya, batu-batu akik ini bukan batu masakan, tapi batu ini berasal dari alam. Tuhan yang punya,” ucapnya sambil menunjuk ke atas.

Ed juga memiliki filosofi tersendiri tentang batu. Batu, menurutnya, adalah sebuah karya seni. Sulit untuk menentukan harga sebuah produk seni. Kebanyakan pembelinya memang orang-orang yang memiliki hobi untuk mengoleksi batu. Pernah suatu waktu ada seorang kolektor batu yang ingin membeli salah satu batu miliknya seharga Rp 200.000,00 dengan harga Rp 3.000.000,00. Padahal menurutnya, batu yang dipilih orang tersebut tidaklah istimewa.

“Begitulah , Dik, kalau seseorang menyukai karya seni, berapa pun harganya pasti rela ia membayar,” jelasnya.

Hal ini juga dirasakan oleh seorang kolektor batu paruh baya asal Solo yang berdomisili di Cikampek bernama Sudarno, atau yang biasa dipanggil Pakde Darno. Motivasinya membeli batu adalah karena keindahan. Jika ada batu yang memukau hatinya, maka ia rela membayar berapapun harganya. Diakuinya bahwa kesukaannya akan batu baru muncul 2 tahun belakangan, sejak batu menjadi tren pasar. Dahulu, ia merupakan penggemar burung.

“Dulu saya penggemar burung itu toh, Mbak. Ndak tahu lah, sekarang ini abis zuhur, isik isik isik batu. Di rumah saya itu ya juga jadi tren. Sekarang tuh satu RT loh, Mbak, gerombol-gerombol lihat batu. Kadang sambil solat aja bawa batu, bingung saya haduuh,” ujarnya sambil tertawa ringan.

Sosok yang ramah ini ternyata memiliki 100 buah batu di rumahnya. Uniknya, Pak Darno ternyata suka membagikan batu yang dibeli kepada warganya. Apabila ada yang meminta batu nya, ia tak berat hati melepasnya. Justru terkadang ia yang memoles batu itu sebelum diberikan ke warganya.

“Batu malah tak bagikan tetangga kanan kiri, Mbak. Satu RT tuh hampir tiap hari keluar-masuk rumah, tak kasih batu. Ndak ada istilah njual, kalau mau batu ya monggo ambil aja.”

Lebih dari Sekadar Seni

Gang sempit yang hanya bisa dilewati 1 motor itu terletak di perkampungan daerah Harmoni. Sepanjang gang dihiasi dengan rumah warga yang saling berhimpitan satu sama lain. Di penghujung gang, tepat bersebelahan dengan musala, adalah rumah yang kucari.

Satu ketuk. Dua ketuk. Tiga ketuk. Tak ada jawaban dari penghuni rumah. Heran, kulirik arloji. Waktu menunjukan pukul 12.00 siang. Pantas saja tak ada yang menjawab, saat itu waktunya shalat Jum‟at. Setelah hampir satu jam menunggu, yang dicari pun kemudian tiba.

Sesosok ustaz berkulit sawo matang yang biasa dipanggil Habib Ma'mun, tersenyum ramah sambil membukakan pintu rumahnya.

Sekilas tak ada yang aneh dengan penampilannya. Sarung, baju koko putih, dan peci putih. Sama seperti lelaki kebanyakan yang pergi salat Jumat. Tetapi, cincin-cincin berwarna hijau tua, hijau muda, dan hitam pekat di ketiga jarinya lah yang menarik perhatian.

Habib Ma'mun pun mulai bercerita tentang cincin-cincinnya. Dari semua koleksi batu miliknya, hanya beberapa yang dibeli dengan uang. Sebagian besar datang menghampiri dengan sendirinya atas kuasa Tuhan.

Untuk mendapatkan batu, setiap malam Ma'mun salat, zikir, membaca Alquran, dan melakukan wirit. Ketika terlelap, ia akan mendapat ilham berupa mimpi dari Tuhan. Di dalam mimpinya, Ma'mun diminta untuk mendatangi suatu tempat, biasanya merupakan sebuah tempat pemakaman. Ia mendatangi tempat tersebut untuk berdoa dan berzikir.
Tak lama, sebuah batu akan muncul di hadapannya. Terkadang, batu yang muncul berbentuk lonjong, bulat, kotak, kerucut, atau bahkan cembung ke dalam. Seperti lotere, tak ada yang bisa mengetahui apa yang akan didapat.

Setelah mendapatkan batu, ritual pun harus dijalankan sang pemilik. Setiap pagi, batu harus dibacakan salawat dan dimandikan dengan minyak gahru. Minyak seharga Rp 70.000,00 itu rupanya tidaklah mudah didapatkan di pasaran. Hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapatkannya, seperti si Habib.

Dari berkotak-kotak koleksi batu miliknya, 4 jenis terindah baginya adalah Yaman, Pirus, Blue Sapphire, dan Jabarjud, yang berasal dari Arab. Blue Sapphire, tidak seperti namanya, berwarna ungu pekat. Batu itu menjadi kesukaannya karena dapat membuat orang-orang segan dan cenderung menuruti segala ucapannya.

“Nah ini kesukaan saya. Kalo pakai ini ya gimana ya, orang itu istilahnya nurut gitu sama saya. Apa yang saya kata, dilakukan sama mereka,” ujarnya mantap.

Meskipun batu miliknya berkhasiat, tetapi ia tidak lantas mengagungkan batunya. Menurutnya, pemilik batu harus berkuasa atas batu masing-masing, bukan sebaliknya. Hal ini dikarenakan manusia lebih mulia di mata Tuhan dibandingkan dengan jin.

“Tapi gini, Neng, pokoknya jangan jadikan batu itu pedoman hidup kita, musyrik. Jangan sampai karena batu jadi menduakan Allah, meninggalkan ibadah. Apa pun kan yang ngasih Tuhan, termasuk itu batu. Jadi minta apa-apa harus tetep sama Allah,” begitu ucapnya.

Bagaimanakah hukum syariah seputar cincin? Benarkah ada hadits yang menerangkan keutamaan cincin akik? Bolehkah mempercayai bahwa cincin mempunyai khasiat tertentu?

Nantikan di Tamasya Bunaken: Dari Seni hingga terbawa Mimpi.

Dengan Pemateri:
Rosmianto Aji Saputro,
Kepala Divisi Informasi dan Komunikasi Unit Kajian Islam Ideologis
Harmoni Amal Titian Ilmu (HATI) Institut Teknologi Bandung
Pengamat Sosial "Fenomena Batu Akik"

Jumat, 20 Maret 2015
Pukul 17.00 (persiapan Salat Maghrib)-19.30
Tempat: Selasar Sunken Court, Kampus ITB Ganesha, Bandung.

Prolog:
"Batu Akik: Dari Seni Hingga Kebawa Mimpi"
Oleh: Regina Nopia Helnaz

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*