10384831_1029067560441341_7817724133320320328_n

Penyudutan Islam oleh Media

10384831_1029067560441341_7817724133320320328_n

Pemateri :
Rosmianto Aji Saputro (Teknik Elektro 2013, Kepala Divisi Infokom HATI ITB)
Reka Ardi Prayoga (Teknik Mesin 2012, Kepala Gamais ITB)

Berita yang booming beberapa waktu lalu diantaranya adalah hilangnya 16 WNI dalam perjalanan wisata ke Turki. Berita booming lainnya adalah tertangkapnya 16 WNI di perbatasan Turki dan Suriah. Mereka diduga bergabung dengan ISIS. Di era global seperti ini, cukup sulit untuk menemukan berita yang kebenarannya bisa dipertanggungjawabkan. Banyak berita berhiaskan kata diduga dan hanya merupakan tulisan editor semata. Belum tentu bahwa apa yang menjadi headline merupakan sesuatu yang benar-benar ada. Banyak headline yang bukan merupakan ucapan langsung dan buatan dari para jurnalis. Bahkan Napoleon Bonaparte mengatakan bahwa seorang jurnalis lebih berbahaya daripada tiga batalyon tentara.Berita-berita yang tidak benar ini seharusnya sudah melewati mekanisme-mekanisme yang ada di dalam media tempat berita ini dikeluarkan. Tapi masih saja banyak berita yang tidak berkualitas beredar. Media yang awalnya diharapkan menjadi penglihatan rakyat malah mengkhianati rakyat malah berpihak pada para penguasa. Media menjadi tangan kanan dari para orang-orang berduit banyak.

10401364_1029068673774563_874945775266865072_n

“Seharusnya media menyampaikan informasi yang benar. Tidak cukup hanya benar, informasi yang diberikan juga harus bermanfaat”, kata Reka.

Islam juga merupakan objek yang disasar oleh media-media nasional maupun internasional. Berita di atas menjadi salah satu contoh. Lalu masih ingatkah kita dengan hebohnya pemberitaan media internasional ketika terjadi penembakan di kantor majalah Charlie Hebdo? Mayoritas media internasional merespon dengan mengatakan bahwa “Islam Teroris”. Lalu kemudian datanglah kasus penembakan Chapel Hill yang dilakukan oleh seorang non muslim kepada tiga orang muslim. Media-media tersebut tidak merespon dan memberitakannya sebagai aksi dari orang yang sakit jiwa. Jelaslah bahwa media-media tersebut berstandar ganda.

1507561_1029063127108451_7371122641630147802_n

“Media non muslim jelas-jelas hanya menjalankan strateginya kepada muslim. Strategi-strategi tersebut adalah pengokohan nilai kapitalisme, liberalisasi dan sekularisasi, stigma negatif terhadap Islam, intervensi terhadap kurikulum pendidikan, dan memecah belah umat Islam”, kata Aji.

Pada dasarnya, setiap Muslim berkewajiban untuk menyampaikan informasi yang benar dan bermanfaat saja. Tetapi hal ini nampaknya dilupakan oleh para jurnalis dan bahkan oleh diri kita sendiri.

Penyebabnya tidak lain adalah Islam yang sudah dilupakan dan tidak menjadi tolok ukur utama bagi Muslim untuk menentukan sesuatu itu benar atau salah.

Di zaman sekarang, Islam hanya dipakai ketika hendak beribadah saja. Inilah yang merupakan keinginan dari para pencetus teori sekularisme. Tanpa sadar, sistem pendidikan Indonesia pun sudah menganut sekularisme sejak lama. Pelajaran-pelajaran yang didapat di bangku sekolah tidak pernah dikaitkan dengan agama. Maka jelas-jelas bahwa sekularisme telah menyebabkan perubahan Muslim di dunia.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencegah masalah-masalah di atas. Karena musuh-musuh Islam menginginkan umat Muslim terpecah belah, maka kita harus mengokohkan kembali persatuan kita. Seorang Muslim juga harus fokus beropini dalam menegakkan syariat dan tidak boleh kalah dari musuh-musuh Islam. Kita juga harus menguliti sistem demokrasi yang sebenarnya jelmaan dari liberalisme-kapitalisme ini.

Masyarakat harus sadar bahwa demokrasi hanyalah “nama” dan apa yang sebenarnya dijalankan oleh negeri ini bukanlah demokrasi.

Selain itu, kita juga harus mengubah kebiasaan menyebarkan berita tanpa mengecek kebenarannya. Cek terlebih dahulu kebenaran sebuah kabar sebelum disebar. Tapi informasi yang disebar juga harus bermanfaat.

Di sisi lain, media juga harus dibatasi kebebasannya. Kebebasan yang ada malah menyebabkan media bertindak sesukanya. Media bebas memberitakan siapapun dan apapun tanpa batas. Media hanya memberitakan apa yang ramai diperbincangkan, bukan yang seharusnya diperbincangkan.

10384831

“Media harus dikontrol dalam memberikan berita. Pengontrolan disini bukan pembredelan tapi lebih ke menjaga kualitas dari informasi yang diberikan”, jelas Aji.

Mimpi kita semua adalah media-media yang ada bisa melihat Islam secara objektif. Islam bukanlah sesuatu yang layak disudutkan tapi sebuah agama yang merupakan rahmat bagi seluruh alam. Islam merupakan pedoman satu-satunya yang bisa mengantarkan manusia ke surga. Islam bukanlah teroris namun agama yang sangat mulia dan berasal dari Allah swt.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*