Arsip Kategori: Buku

BHINNEKA Vol.6 Mei 2010

Format : Majalah/ Buletin

Harga : Gratis

Topik Utama : Edisi Khusus ILGA 2010

Sepulang dari studi selama 4 bulan, saya sempatkan masuk ruangan kerja saya di kampus untuk sekedar menengok meja kerja saya. Entah siapa yang menaruhnya, majalah ini sudah tergeletak di atas meja saya yang memang selalu terlihat berantakan dengan buku-buku dan kertas gak jelas. Kovernya gak menarik. Tapi yang membuat saya penasaran dengan isinya adalah slogan majalah ini, “karena indonesia tidak tunggal ika”. Tumben ada yang ‘agak’ kontroversi gini?

Sambil saya buka halaman pertama, saya jadi lebih tertarik lagi karena ternyata kepanjangan ILGA adalah International Lesbian and Gay Conference. Saya langsung bisa menebak kalau majalah ini adalah majalah buatan para aktivis gay dan lesbian. Pantes aja, la wong si hombreng Dede Oetomo ikutan nongol di daftar penasehat majalah ini.

Saya baca-baca cepat dari awal hingga akhir edisi ini. Isinya benar-benar tentang kekecewaan, kemarahan, dan rasa sebel mereka atas gagalnya konferensi gay dan lesbian (ILGA 2010) diadakan di Surabaya bulan Maret setahun yang lalu. Para penulis, redaktur, dan para kontributornya semua terlihat emosional dalam meliput bagaimana konferensi itu digagalkan oleh ormas-ormas Islam setempat. Hehehe..saya jadi ketawa-ketawa sendiri membacanya sambil ngebayangin kaum Luth yang pada ngambek karena sebel. Dalam hati saya berkali-kali mengucap “kapok! Rasakno!..” (rasain lu!).

Musuh utama mereka adalah syariat Islam dan orang-orang yang memperjuangkannya di negeri ini. Mereka sebut ormas-ormas Islam macam FPI atau HTI sebagai ‘teroris HAM’. Menurut saya julukan itu cukup keren kok. Gapapa, biarin aja. Karena kita senang-senang aja dianggap musuh. Karena musuh kemungkaran kan namanya kebaikan. Gay dan lesbi jelas mungkar, nah berarti kita jelas kebaikan.

Negara demokrasi emang memberikan ruang bagi mereka untuk eksis. Tameng mereka adalah HAM. Huh,..alasan yang membosankan. Saya sih waktu itu mikirnya simpel aja. Berharap suatu hari nanti ada anak-anak kecil main petasan di dekat markas mereka, pas mereka lagi ngadain konferensi, trus petasannya yang ukuran gede dilemparin ke tempat itu, lalu ngenain tabung elpiji, lalu Blaarrrr! Dan semua bencong-bencong, hombreng-hombreng, lesbian-lesbian terkutuk itu pada tamat riwayatnya.

Eh, btw, dimana tempat orang jual petasan?

Ups, kembali lagi ke topik. Majalah ini sebenarnya diisi oleh tulisan-tulisan yang tidak terlalu profesional. Masih amatiran lah. Yang membuat saya risih adalah mereka sering mencari legitimasi ke-gay-annya dan ke-lesbian-nya dengan dalil bahwa tuhan itu bijak kepada lesbian, gay, transgender, dan sebagainya. Bahkan mereka banyak yang ngaku gay-lesbian yang muslim dan agamis. Menurut saya itu malah keliatan banget bodohnya. Mungkin waktu kecil gak pernah tahu cerita kaum Luth kali ya? Apalagi sekarang udah telat kalo minta dicritain. Males banget.

Kalau ada yang mengatakan bahwa saya homophobic, maka anda salah. Saya bukan homophobic karena seorang homophobic membenci homoseksual karena dia benci tanpa alasan logis. Tapi saya? Saya membenci homoseksual dan sejenisnya karena hal itu dibenci pula oleh Allah Ta'ala. Tuhan semesta alam yang menciptakan kita semua di alam raya ini. Pihak yang paling berhak membenci siapapun. Logis kan?

Udah deh,..ini resensi majalah paling gak penting sedunia. Majalah cetakan hvs 56 halaman ini isinya terlalu banyak lelucon untuk dibahas. Kalo kalian lagi sedih atau bete, silakan baca majalah ini. Pasti akan membantu anda senyum bahkan tertawa. 😀 [aa]